Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kilas Tokyo

Minimalis

Di daerah Nippori Tokyo bertebaran toko dan grosir kamera analog tua dan bekas yang masih berbasis film kuno.

Editor: Sudirman
DOK TRIBUN TIMUR
Kolumnis tetap Kilas Tokyo Tribun Timur, Muh Zulkifli Mochtar menyampaikan ucapan selamat atas pencapaian 7 juta subscribers channel YouTube Tribun Timur. 

Oleh Muh Zulkifli Mochtar

Tokyo bukan hanya kota pusat produk modern saja.

Tapi juga surga bagi penggemar barang tradisional nan lawas.

Di daerah Nippori Tokyo bertebaran toko dan grosir kamera analog tua dan bekas yang masih berbasis film kuno.

Dibanyak tempat juga bertebaran toko buku buku tua.

Secara umum, minimalis sebuah konsep hidup yang sangat lazim di negara ini.

“Minimalisme memang memiliki sejarah panjang di Jepang” menurut Mihoko Iida penyusun buku Japanese Interior, seperti ditulis Lindsay Baker di BBC desember dua tahun lalu.

Juga bisa tercermin juga dalam arsitektur desain rumah; close to nature, beautiful, minimalist.

Material bangunan yang digunakan juga umumnya berkarakter dekat dengan kekhasan dan kesederhanaan alam lingkungan sekitar.

Saat anda masuk ke rumah atau bangunan perkantoran, satu tipikal khas rumah Jepang umumnya punya ‘genkan’ sebagai area jalan masuk.

Berupa area kecil, tempat tamu melepas sepatu mereka.

Disitulah mereka melepas sepatu dan menyimpannya di rak sepatu disampingnya.

Lalu masuk menggunakan ‘surippa’ sandal khusus indoor.

Di Jepang tidaklah menggunakan sepatu atau berkaus kaki masuk ruangan.

Umumnya ‘surippa’ buat tamu tersedia di area genkan.

Wastafel dan kamar mandi biasanya terpisah.

Di kamar mandi - disebut sebagai ‘ofuro’, umumnya modern dengan beragam home technology mutakhir Jepang untuk berendam air panas.

Sementara toilet umumnya berukuran kecil, tapi bidet nya dipenuhi beragam tombol control panel berbagai fungsi.

Fitur panel toilet Jepang sangat kompleks.

Ada yang bisa membuka menutup otomatis, automatic deodorizing, berpendar dwaktu malam, seat heating otomatis hangat di saat musim dingin atau menyapa secara otomatis saat masuk.

Ada juga berfitur mengeluarkan kamuflase suara air agar suara dalam toilet tidak nyaring terdengar keluar.

Bahkan ada lagi pengembangan baru Floating Pictogram Teknologi untuk toilet.

Tidak lagi menyentuh langsung tombol fisik, tapi tampilan tombol seperti melayang mengambang didepan mata.

Pokoknya jika ingin merasakan sensasi berbeda teknologi negara Jepang, tengoklah ke toilet mereka.

Meski ukuran toilet minimalist, tapi banyak sekali fungsi bisa terselesaikan tanpa perlu banyak bergerak.

Tinggal tindis tombol, semua akan bekerja sendiri, bersih dan beres!

Hidup minimalis juga tercermin dalam penggunaan teknologi, salah satunya - jumlah vending machine yang sangat banyak.

Industri makanan Jepang memang sangat terobsesi makanan siap saji kemasan.

Menurut Japan Vending Machine Manufacturers Association, diperkirkan total 5 juta mesin atau kurang lebih ada satu mesin per 23 penduduk.

Produsen berlomba lomba menjajakan produknya menggunakan mesin; mulai dari minuman, makanan cepat saji, sayuran, suratkabar, DVD, es krim, pokoknya apa saja.

Harga juga tidak beda dengan harga pasaran. Makanan yang tidak butuh waktu lama untuk meracik.

Hidup minimalis juga sangat terlihat dalam life style sehari hari.

Sangat banyak contohnya, misalnya tentang nilai ‘Respect’ menghormati barang yang makin dianggap sebagai konsep urgen setelah konsep 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle).

Ada sebuah kata ’Mottainai’, secara umum bermakna sia sia jika tidak dimaksimalkan, sayang jika dibuang atau tidak dirawat dengan baik.

Dalam manajemen kerja prinsip 5S Jepang ada prinsip penting Seiso; selalu resik merawat peralatan agar kondisi baik bersih.

Jumlah recycle shop pun bertambah setiap tahun dan menjual beragam barang re-use: elektronik, pakaian hingga perhiasan bekas.

Barang tua tapi bersih terawat, kadang lengkap dengan kotaknya. Seakan membeli barang baru.

Apalagi membuang benda di Jepang juga tidak boleh semaunya.

Barang besar semisal TV, kulkas, sofa besar, mesin cuci harus membayar yang nilainya variatif kadang hingga 3000 yen atau sekitar 320 ribu rupiah per barang.

Makanya, cara pikir kita dalam membeli dan merawat harus berstandar sama. Keduanya sama pentingnya.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved