Kilas Tokyo
Urgensi Bersiap
Gempa magnitude 9.0 diikuti tsunami yang telah merenggut korban jiwa lebih dari 15 ribu dan ribuan hilang.
Oleh : Muh. Zulkifli Mochtar
Kita terus menghadapi ancaman bencana. Karena itu, latihan bencana dan disaster education di sekolah penting. Mengapa?
Ada bagusnya kita menilik kisah menakjubkan tentang siswa sekolah di Kamaishi Prefektur Iwate ketika Great East Japan Earthquake dan tsunami menerjang kota mereka dua belas tahun lalu - 11 Maret 2011.
Gempa magnitude 9.0 diikuti tsunami yang telah merenggut korban jiwa lebih dari 15 ribu dan ribuan hilang hingga kini, telah memunculkan kisah nyata hampir 3.000 siswa sekolah dasar dan SMP di Kamaishi selamat.
T. Katada dan M.Kanai dalam paper di Journal of Disaster Research 2016 berjudul ‘The School Education to Improve the Disaster Response Capacity: A Case of Kamaishi Miracle’ menyebutkan Istilah ‘Kamaishi Miracle’ pun pertama kali diperkenalkan oleh World Bank dalam ‘The Great East Japan Earthquake Learning from Megadisasters: Knowledge Notes, Executive Summary’ sebagai satu contoh dari successful disaster prevention education yang dilaksanakan secara rutin dan kontinyu sebelum bencana datang.
Kamaishi adalah sebuah kota di provinsi Iwate berpenduduk sekitar 40 ribu.
Gempa terjadi pada pukul 14:46 menimbulkan getaran sekitar 5 menit.
Setelah gempa berlalu, dari pihak sekolah berusaha menyerukan tindakan evakuasi siswa melalui broadcasting system sekolah, tapi tidak bisa akibat listrik terputus.
Para siswa SMP Kamaishi Timur yang berteriak "Tsunami akan datang. Ayo segera Lari!" dari halaman sekolah dan segera berlari keluar sekolah.
Siswa SD Unosumai yang berada di sebelah SMP pun mengikuti berlari keluar dari sekolah.
Tindakan para siswa akhirnya menarik perhatian penduduk setempat untuk ikut berlari.
Saat mereka berlari, siswa yang lebih tua mendukung siswa lebih muda.
Bersama mereka berlari mencapai lokasi pengungsian yang aman, sementara di belakang mereka mega-tsunami telah menerjang kota dan sekolah mereka.
Korban gempa dan tsunami di kota ini mencapai 1.000 orang; sebagian besar orang tua, meninggal atau hilang.
Dari sekitar 3.000 anak dan siswa kota ini, lima yang meninggal atau hilang; kelima nya tidak berada disekolah saat gempa terjadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/muh-zulkifli-mochtar.jpg)