Opini
Spiritualitas Sastra
Keheningan menjadi situasi dan kondisi tertentu yang dibutuhkan untuk berbagai hal.
F. Budi Hardiman mengingatkan kebenaran digital sangat tendensius dan berbahaya.
Pemilik otoritas sengaja memproduksinya bukan untuk tujuan kemanusiaan, tetapi untuk kepentingan laba.
Jamie Bartlett telah memprediksi sebelumnya bahwa kebenaran ini sangat dangkal. Tujuannya hanya untuk memenuhi kesenangan materialistik semata.
Dan Tom Nichols menyeru agar tidak mudah mempercayai informasi yang bersumber dari mesin digital.
Era digital dengan segala kelimpahan informasinya tak lantas berarti lompatan jauh dalam bidang pengetahuan, tetapi sekaligus berarti kemunduran.
Sebab, di era ini semua orang adalah pakar yang pada gilirannya menolak otoritas agama, sains, dan pengetahuan lainnya yang telah mapan.
Algoritma digital berkuasa memproduksi kebenaran dengan memanfaatkan media sosial untuk menghimpun informasi dalam mempelajari, mengarahkan, dan memprediksi user.
Yuval Noah Harari mengatakan semula, algoritma digital menawarkan iklan dan berbagai informasi.
Tetapi, mereka sebenarnya tidak menawarkan iklan, tidak menjadikan kita pelanggan, tetapi sebagai produk mereka.
Kejanggalan ini mendapat kritik tajam oleh Erich Fromm.
Menurutnya, manusia di era teknologi adalah masyarakat pasif, yakni masyarakat yang termekanisasi sedemikian lengkap, sehingga dikuasai oleh otoritas mesin dan tunduk pada output materi dan konsumsi maksimal.
Sebab itu, spiritualitas sastra menjadi penting. Pertalian sastra dengan kosmologi dapat menjembatani manusia kontemporer kembali pada hakikat kebenaran yang telah dikangkangi oleh digitalitas.
Dengan demikian, spiritualitas sastra adalah langkah penting bagi manusia menemukan kembali ruh spiritualnya.
Yasraf Amir Piliang dalam Dunia Yang Dilipatnya-nya, membeberkan satu rahasia penting. Bahwa mengembalikan manusia pada kedalaman spiritual, kehalusan nurani, dan ketajaman hati, kuncinya adalah karya sastra, yakni pepatah dan petitih.
Jenis karya sastra klasik ini harus diperdengarkan terus menerus dan dinarasikan berulang kali.(*)
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulsel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Suryadi-R-Founder-Lingkar-Studi-Aktivis-Filsafat-LSAF-An-Nahdliyyah-5.jpg)