Opini
Spiritualitas Sastra
Keheningan menjadi situasi dan kondisi tertentu yang dibutuhkan untuk berbagai hal.
Karya sastra juga seringkali menyoal kosmologi.
Nirwan Ahmad Arsuka menyebut sastra adalah tarian semesta yang bertujuan abadi, yakni kesempurnaan.
Layaknya semesta, sastra melaju dan berproses terus menerus menuju kesempurnaan yaitu mensastrakan semesta.
Relasi antara sastra dan fakta kosmik yang digambarkan Nirwan mencerminkan sastra telah melampaui dirinya.
Sastra tak hanya bertaut pada tulisan, tapi juga pada nyanyian dan musik yang mempelajari semesta dengan barisan lirik dan tangga nada.
Dalam konteks ini, sastra mencandra kosmologi. Insight semesta yang diperoleh membawa ketakjuban dan ikut menari dalam tarian semesta raya.
Fase ini adalah level tertinggi spiritualitas sastra.
Relasi sastra dan kosmologi adalah relasi antara mikro kosmos (manusia) dan makro kosmos (alam semesta).
Menggapai tingkatan ini tak hanya bermodal penginderaan dan rasionalitas, tapi juga pengalaman intuisi.
Diperlukan kombinasi alat epistemologi yang lengkap, karena semesta tak mengungkap substansi fisik semata, tapi juga realitas metafisik, sehingga diperlukan intuisi untuk menyibak realitas metafisik itu.
Jalan Lain
Spiritualitas sastra adalah alternatif. Spiritualitas ini menjadi jalan lain menghamba pada kebenaran.
Meski begitu, spiritualitas sastra bukan agama atau ingin fungsi mengganti agama, melainkan instrumen bantu memahami tujuan agama.
Di era post-truth, lembaga penjamin kebenaran seperti agama mengalami resistensi oleh kebenaran yang diproduksi oleh kanal segala rupa terutama mesin digital.
Akibatnya, kebenaran mapan yang telah ada mengalami alienasi.
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulsel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Suryadi-R-Founder-Lingkar-Studi-Aktivis-Filsafat-LSAF-An-Nahdliyyah-5.jpg)