Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Spiritualitas Sastra

Keheningan menjadi situasi dan kondisi tertentu yang dibutuhkan untuk berbagai hal.

Editor: Sudirman
Ist
Muhammad Suryadi R, Founder Lingkar Studi Aktivis Filsafat (LSAF) An-Nahdliyyah 

Karya sastra juga seringkali menyoal kosmologi.

Nirwan Ahmad Arsuka menyebut sastra adalah tarian semesta yang bertujuan abadi, yakni kesempurnaan.

Layaknya semesta, sastra melaju dan berproses terus menerus menuju kesempurnaan yaitu mensastrakan semesta.

Relasi antara sastra dan fakta kosmik yang digambarkan Nirwan mencerminkan sastra telah melampaui dirinya.

Sastra tak hanya bertaut pada tulisan, tapi juga pada nyanyian dan musik yang mempelajari semesta dengan barisan lirik dan tangga nada.

Dalam konteks ini, sastra mencandra kosmologi. Insight semesta yang diperoleh membawa ketakjuban dan ikut menari dalam tarian semesta raya.

Fase ini adalah level tertinggi spiritualitas sastra.

Relasi sastra dan kosmologi adalah relasi antara mikro kosmos (manusia) dan makro kosmos (alam semesta).

Menggapai tingkatan ini tak hanya bermodal penginderaan dan rasionalitas, tapi juga pengalaman intuisi.

Diperlukan kombinasi alat epistemologi yang lengkap, karena semesta tak mengungkap substansi fisik semata, tapi juga realitas metafisik, sehingga diperlukan intuisi untuk menyibak realitas metafisik itu.

Jalan Lain

Spiritualitas sastra adalah alternatif. Spiritualitas ini menjadi jalan lain menghamba pada kebenaran.

Meski begitu, spiritualitas sastra bukan agama atau ingin fungsi mengganti agama, melainkan instrumen bantu memahami tujuan agama.

Di era post-truth, lembaga penjamin kebenaran seperti agama mengalami resistensi oleh kebenaran yang diproduksi oleh kanal segala rupa terutama mesin digital.

Akibatnya, kebenaran mapan yang telah ada mengalami alienasi.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved