OPINI
Memilih Presiden dengan Rasionalitas, Bukan yang Lain. . .
Pengambilan keputusan termasuk dalam memilih presiden adalah bagian dari proses berpikir yang melibatkan sistem saraf dan otak
Oleh: dr Asriadi Ali SpN MAP
Pengurus Pemuda ICMI Sulawesi Selatan
Pengambilan keputusan termasuk dalam memilih presiden adalah bagian dari proses berpikir yang melibatkan sistem saraf dan otak.
Proses ini sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembangan seseorang sejak lahir dan juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Gangguan pertumbuhan otak tersebut terutama terjadi pada gangguan struktur di otak yakni pertumbuhan akson dan dendrit serta pembentukan sinap yang sangat mempengaruhi fungsi eksekutif sesorang dalam mengambil keputusan.
Seseorang yang bermasalah pertumbuhan otaknya maka dendrit dari neuron di otak akan lebih sedikit, pendek, dan memiliki bentuk yang tidak normal. Pembentukan dendrit yang abnormal ini akan menyebabkan pembentukan sinaps menjadi terbatas, sinaps merupakan hubungan antara akson, dendrit dan badan sel. Sinaps antar neuron yang dibentuk dendrit merupakan faktor penting yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan, pembelajaran, memori, atensi, bahasa, pembentukan keterampilan, dan kemampuan visuospasial seseorang.
Proses memilih yang dihasilkan dari rangkaian berpikir di atas adalah sesuatu yang kompleks dan jika pilihan disandarkan pada sesuatu yang tidak melalui analisis yang matang maka pasti akan berefek pada kualitas keputusan yang diambil, misalnya memilih hanya karena faktor kedekatan, retorika, gimik, pencitraan atau bahkan dengan alasan hanya karena sekadar suka saja yang sebenarnya itu semua adalah asesoris yang mempengaruhi hasil pilihan dan masa depan bangsa.
Seorang presiden adalah mereka yang punya kepahaman yang dalam akan nilai sejarah bangsa, wawasan ekonomi, militer, dan juga memiliki keluasan dalam pertimbangan geopolitik, hubungan antar bangsa, penghormatan yang tinggi akan budaya serta komitmen yang kuat akan pendidikan dan tentu yang tahu arah memajukan negeri menjadi bangsa yang maju, dan banyak lagi pertimbangan lain yang penting untuk memilih pucuk pemimpin di Indonesia ini.
Pertimbangan yang kompleks itulah yang perlu dianalisis secara dalam oleh kurang lebih 100 miliar sel saraf otak kita. Tidak perlu malas dalam berpikir dan menganalisis apalagi sesuatu yang sangat penting dalam mengambil keputusan karena rata-rata otak manusia bisa melahirkan 4 ribu pikiran setiap 24 jam, our brain is just like a sleeping giant, if don’t use it, we lose it.
Sebuah tulisan yang berkaitan dengan hal ini ditulis oleh Damar Susilaradeya,ahli neurosain, dalam uraiannya, sejatinya memilih merupakan tarian yang rumit antara rasionalitas dan emosi. Struktur di otak yang mempengaruhi terkait emosional adalah amigdala sedangkan rasionalitas diproses di korteks prefrontal.
Amigdala memungkinkan orang bereaksi secara cepat kilat tanpa berpikir panjang, sedangkan korteks prefrontal memerlukan waktu lebih untuk bertindak setelah informasi yang masuk diproses. Hal ini disebabkan karena otak rasionalitas/korteks prefrontal membutuhkan waktu sekitar 200 milidetik atau 10 kali lebih lama dari amigdala/otak emosional.
Hal ini penting untuk diolah dengan baik karena memang dalam mengambil keputusan antara logika dan rasa keduanya tidak dapat dipisahkan.
Walaupun kedua hal tersebut tidak dapat dilepaskan tetapi penting untuk menempatkan rasionalitas dalam mengambil keputusan, oleh karena pilihan ini akan berdampak pada banyak orang walaupun dilahirkan dari pilihan pribadi. Izinkanlah korteks prefrontal untuk memproses secara matang dan memiliki waktu yang banyak dalam mengolah informasi yang ada bahkan mungkin sampai pada detik terakhir saat di tempat pemungutan suara (TPS) masing-masing. Bukan karena pertimbangan lain yang mungkin akan membuat beban psikologi dan suasana menjadi tidak tenang yang menghambat proses berpikir matang tetapi keputusan yang ditentukan murni atas dasar rasionalitas berpikir untuk menghasilkan pilihan yang berkualitas.
Keputusan yang berkualitas dengan afiliasi pertimbangan yang kuat akan mendorong ruang kebahagiaan ditengah perbedaan yang ada dalam pilihan dan berujung pada kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang kuat, perlu diingat bahwa bangsa ini lahir karena collective mind dari pikiran/otak yang berbeda-beda. Selamat memilih di 14 Februari 2024, semoga keputusan pribadi masing-masing adalah ikhtiar terbaik untuk Indonesia kita. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/dr-Asriadi-Ali.jpg)