Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pemilu 2024

Jokowi-PDIP Sudah Talak 3

Presiden Jokowi akan berkunjung ke negara-negara Asia Tenggara saat ulang tahun PDI Perjuangan.

Editor: Muh Hasim Arfah
Dokumentasi PDI-P
Momen Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan bakal calon presiden (bacapres) Ganjar Pranowo menggandeng Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri menuruni anak tangga panggung di pembukaan Rakernas IV PDI-P, Jumat (29/9/2023). 

Meski demikian, Ari memastikan kunjungan kerja ke luar negeri bukan untuk menghindari PDIP.

Menurutnya, kunjungan Jokowi ke negara-negara Asia Tenggara sudah direncanakan sejak lama.

Sementara Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto mengaku telah mendapatkan informasi Presiden Jokowi tidak akan hadir dalam perayaan HUT ke-51 PDIP pada pada 10 Januari 2024.

Menurut informasi yang ia dapat, Jokowi sedang berada di Filipina saat puncak peringatan ulang tahun partai digelar.

"Kami sudah mendapat informasi juga bapak presiden Jokowi akan melaksanakan tugas negara di luar negeri, di Filipina," kata Hasto di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, (6/1).

Meskipun demikian Hasto tidak khawatir dengan ketidakhadiran Presiden Jokowi.

Menurutnya karakter PDIP adalah bersama rakyat.

"Tapi watak kegiatan kali ini ke bawah menyatu dengan rakyat itu sendiri," katanya.

Saat ditanya apakah ketidakhadiran Jokowi akan berpengaruh pada elektabilitas PDIP di Pemilu 2024 nantinya, Hasto mengatakan HUT kali ini bersumber dari akar rumput.

Peringatan hari lahir melibatkan banyak masyarakat karena kedaulatan berada di tangan rakyat.

"Belajar dari sejarah PDIP,  perjuangan ketika menghadapi pemerintahan yang otoriter sampai kantor PDIP diserang kekuatan  rakyat adalah senjata yang paling kuat di dalam menentukan elektoral parpol dan calon presiden," katanya.

Sementara politikus senior PDIP Hendrawan Supratikno menilai sebutan 'talak' 3 terhadap hubungan Jokowi dan PDIP terlalu berlebihan'.

"Jangan pakai istilah yang seram-seram. Lebih baik disebut, Jokowi punya sikap dan pilihan yang berbeda dari partai yang membesarkannya. Pilihan yang prosesnya panjang dan penuh dinamika," kata Hendrawan.

Menurut Hendrawan istilah 'talak' terlalu berlebihan karena terkesan ada dua pihak yang bermusuhan. Padahal, demokrasi yang berkembang di Indonesia, menurut Hendrawan kekeluargaan.

"Dalam demokrasi gotong royong, jangan menggunakan diksi atau narasi yang seram-seram, yang berlebihan, yang frontal konfrontatif," ucapnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved