Opini
Bunuh Diri Demokrasi Kita
Setinggi- tinggi ilmu, semurni- murni Tauhid, dan sepandai- pandai siasat (H.O.S Tjokroaminoto).
Ute Nurul Akbar
Pegiat Wacana Humaniora
Setinggi- tinggi ilmu, semurni- murni Tauhid, dan sepandai- pandai siasat (H.O.S Tjokroaminoto).
P.K Ojong dalam Perang Pasifik secara kronik naratif menghidupkan situasi puluhan tahun lalu.
Dipertengahan tahun 1943, beberapa serdadu Amerika yang menjadi tawanan perang Jepang digiring untuk kerja paksa ditempat pembuatan Kapal milik Jepang.
Mereka melihat buruh jepang bermalas- malasan karena menurut mereka “kita sudah menang”.
Ini imbas dari politik bohong yang dilakukan oleh militer Jepang.
Berita kemenangan dibesar- besarkan dan kekalahan juga dikabarkan sebagai kemenangan.
Untuk sementara telah melahirkan euforia yang justru akan menjadi bumerang bagi Jepang.
Yaitu lahirnya sikap santai dan bermalas- malasan.
Sebaliknya pihak Sekutu yang memberitakan dengan benar meskipun berita itu tentang getirnya kekalahan yang dialami.
Justru tidak menjatuhkan semangat mereka meski sempat kalah dipermulaan.
Hal ini malah semakin membangkitkan semangat dan solidaritas dan menjadi cambuk untuk menambah dan mempercepat produksi kapal perang, pesawat, senjata serta antusiasnya rakyat mereka berlatih menjadi serdadu yang tangguh didarat, laut dan udara.
Perang Dan Pesan Sosial
Ojong seolah menggaris bawahi pesan sosialnya tentang kejujuran dan kebohongan yang dimainkan oleh para petinggi di dua Kubu Perang Pasifik itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Ute-Nurul-Akbar-Pegiat-Wacana-Humaniora.jpg)