Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Quo Vadis Pemilu, Demokrasi, di Tengah Problematika Kedaulatan Digital

Dalam Pemilu, prinsip evaluasi dan antisipasi masa depan pemerintahan dalam bernegara adalah azas yang mendasar.

Editor: Sudirman
Ist
Aswar Hasan, Dosen Fisipol Unhas 

Oleh: Aswar Hasan

Dosen Fisip Unhas

"Demokrasi tanpa Pemilu adalah omong kosong sementara Pemilu tanpa prinsip demokrasi adalah pembohongan dan pengkhianatan terhadap terhadap subtansi demokrasi.

Dalam Pemilu, prinsip evaluasi dan antisipasi masa depan pemerintahan dalam bernegara adalah azas yang mendasar.

Dan harus bisa bertegak berdasarkan kepentingan berbangsa karena Pemilu bukanlah sekadar pergiliran atau penggantian penguasa tetapi agar terjadi perbaikan melalui pilihan pemimpin.

Pemilu jangan sampai menjadi ajang menang kalah semata, yang mengharamkan perbedaan karena tanpa hadirnya perbedaan itu berarti hilangnya makna kenapa rakyat harus memilih.

Sebab, urgensi suatu pilihan, adalah karena adanya perbedaan.

Dalam pada itu pun pelaksanaan Pemilu secara demokratis di era digital adalah sebuah tantangan sekaligus peluang menuju prinsip dan subtansi demokrasi.

Kedaulatan digital dalam konteks demokrasi merujuk pada kemampuan masyarakat untuk memiliki kontrol dan akses yang seimbang terhadap informasi, komunikasi, dan teknologi digital dalam proses politik dan pengambilan keputusan.

Standar kedaulatan digital yang baik dapat membantu memastikan bahwa pemilu berjalan dengan adil, transparan, dan akuntabel dalam era digital. Hal ini sangat penting untuk menjaga integritas demokrasi.

Permasalahannya, justru Pemilu di era digital saat ini menghadirkan sejumlah permasalahan yang rentan mengancam demokrasi.

Salah satu diantaranya, tersebarnya disinformasi dan peran para buzzer dan influenser yang sudah tidak sehat.

Disinformasi adalah penyebaran informasi palsu, salah, menyesatkan, atau manipulatif secara sengaja, dengan tujuan untuk mempengaruhi pandangan, keyakinan, atau tindakan orang lain.

Disinformasi seringkali digunakan untuk menciptakan kebingungan, merusak reputasi seseorang atau kelompok, atau mencapai tujuan tertentu, seperti memengaruhi hasil pemilihan atau menciptakan ketidaksetujuan dalam masyarakat.

Disinformasi adalah bentuk komunikasi yang tidak jujur dan bertentangan dengan prinsip-prinsip integritas informasi.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved