Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Komodifikasi Perempuan Makassar dan Kehilangan Sehari-Hari

Terdapat perbedaan besar antara perempuan Makassar hari ini dengan perempuan Makassar beberapa dekade lalu.

Editor: Sudirman
Ist
Amar Ma’ruf, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin 

Tidak hanya menghabiskan waktu luang di rumah seperti kebanyakan perempuan dalam budaya patriarki, perempuan Makassar kini banyak menghabiskan waktu luangnya dengan mengakses alat pemuas keinginan berupa mall, café dan berbagai tempat yang memanjakan matanya. Begitulah hari ini perempuan Makassar.

Komodifikasi Perempuan Makassar

Tanpa disadari, fenomena perempuan Makassar dalam menggunakan waktu luangnya itu telah mengantar pada penjara baru yang lebih nyaman. Penjara ini diartikan sebagai sesuatu yang menghalangi kebebasan.

Jadi, kebebasan yang diperoleh perempuan Makassar lewat perlawanan gagasan terhadap budaya feodal dan patriarki direnggut secara lebih halus melalui komodifikasi.

Komodifikasi adalah proses menjadikan sesuatu yang awalnya bukan komoditi, menjadi komoditi.

Komoditi adalah sesuatu yang memiliki nilai untuk diperdagangkan.

Dalam hal ini, perempuan mengalami hal tersebut.

Hal tersebut diwujudkan lewat pembangunan mall-mall dan wahana hiburan di Makassar yang merenggut penggunaan waktu luang perempuan Makassar.

Fenomena komodifikasi perempuan di Makassar ini juga dijelaskan dalam buku Sosiologi Waktu Senggang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall (2012) karya Muhammad Ridha.

Dalam buku tersebut menerangkan bahwa perempuan sebagai komunitas konsumen lebih banyak menghabiskan waktu di Mall dibanding laki-laki.

Dalam mengakses Mall, perempuan juga lebih banyak membeli barang-barang simbolis yang dianggap mampu mengekspresikan kebebasannya.

Namun pada kenyataannya, tindakan tersebut hanya wujud dari eksploitasi waktu luang oleh kapitalis.

Waktu luang yang seharusnya menjadi waktu selingan yang dapat dimanfaatkan oleh perempuan untuk berpikir, berkontemplasi, merefleksi kejadian atau pelajaran yang didapatkan, mengenali diri, mengenali kemanusiaan.

Bahkan merenungkan kembali nilai-nilai moral yang kita pegang dalam kehidupan ini, justru dimanfaatkan oleh kapitalis untuk memenjarakan kebebasan perempuan.

Akibatnya, perempuan Makassar hanya seolah-olah memiliki kebebasannya.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved