Opini
Rational Choice pada Pemilu 2024, Mungkinkah?
Perbincangan dinamika dunia politik tidak ada matinya, selalu hangat dan gurih tersajikan menjadi teman setia menghabiskan secangkir kopi.
Oleh: Rahmat Muhammad
Sosiolog Unhas/ KPS Magister Sosiologi FISIP Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Atmosfir ruang perdebatan politik di negeri ini kian dinamis dan memanas. Entah itu di warung-warung kopi, apatah lagi di belantara jagad raya media sosial, wabilkhusus pada sejumlah group WhatsApp yang seakan menjadi wadah favorit untuk “sigeakkang” antar sesama warga jama’ah group. Perbincangan dinamika dunia politik tidak ada matinya, selalu hangat dan gurih tersajikan menjadi teman setia menghabiskan secangkir kopi.
Demikianlah adanya perhelatan pemilu 2024 sudah di depan mata, tensi politik perlahan dan pasti akan berjalan menuju titik puncaknya.
Proses perjalanan ini menyisahkan ruang-ruang kontemplasi ilmiah bagi para intelektual kampus, untuk setidaknya dapat menemukan jawaban dari pertanyaan mendasar: Apakah pemilih masih mampu membuat keputusan yang rasional dalam proses politik yang semakin penuh dengan narasi manipulatif dan informasi palsu, yang seringkali disebut sebagai era post-truth?
Era Post-Truth: Transformasi Sosial dan Politik
Dinamika kehidupan masyarakat dalam berinteraksi dengan informasi sosial politik dan kaitannya dalam pengambilan keputusan kolektif kini telah mengalami perubahan seiring dengan masuknya kita pada era post-truth.
Dalam konteks sosiologi politik, ini merupakan transformasi yang sangat signifikan dalam perilaku politik kolektif dan setidaknya memiliki beberapa implikasi yang mendalam.
Pada era kini, media sosial telah dijadikan sarana utama penyebaran konten-konten yang berisi informasi. Namun di saat bersamaan era post-truth ini telah memicu penyebaran berita palsu dan desinformasi dengan cepat, yang dengannya secara mudah dapat mempengaruhi persepsi kolektif.
Mesin partai dan kekuasaan dalam melakukan kampanye seringkali memanfaatkan strategi yang memanipulatif, berfokus pada emosi, dan mengabaikan fakta dalam upaya untuk memengaruhi pemilih. Ini menciptakan tantangan tersendiri yang signifikan dalam kontestasi politik nasional yang didasarkan pada pertimbangan rasional.
Akibatnya di era post-truth ini polarisasi sosial dan politik semakin kuat, karena pemilih cenderung berinteraksi dengan informasi yang sesuai dengan pandangan mereka sendiri, "gelombang informasi" secara sadar dikonstruksi untuk mengisolasi pandangan publik dari pandangan yang sesuai dengan realitas sesungguhnya.
Rational Choice dalam Pemilu Sebuah Tantangan
Rational choice merupakan terori tentang tindakan rasional dari individu atau aktor untuk melakukan suatu tindakan berdasarkan tujuan tertentu dan tujuan itu ditentukan oleh nilai atau pilihan (prefensi). Rasionalitas merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial.
Rational choice menuntun pemilih membuat keputusan politik berdasarkan pertimbangan rasional yang memaksimalkan kepentingan pemilih. Tentu ini menjadi sebuah tantangan bagi para pemilih di era post-truth saat ini. Memilih berdasarkan pertimbangan rasional seringkali tergeser oleh emosi.
Dengan konstruksi kampanye lewat media sosial yang memanipulatif dapat memicu emosi pemilih dapat mengaburkan pertimbangan rasional pemilih. Pemilih dapat menerima informasi yang salah atau tidak terverifikasi, yang menjadi hambatan dalam pembuatan keputusan yang rasional.
Perdebatan yang mengarah pada keterpecahan pilihan politik yang semakin dalam dapat membuat pemilih cenderung memilih berdasarkan afiliasi politik daripada evaluasi rasional tentang kandidat atau kebijakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Rahmat-Muhammad12222222.jpg)