Opini
Warisan Peristiwa 9/11
Pada 11 September 2001 silam, dunia digemparkan oleh aksi terorisme di Amerika Serikat (AS).
Kumar lalu memaparkan data Proyek Costs of War di Brown University yang memperkirakan bahwa, pada tahun 2020, lebih dari 800.000 orang tewas akibat kekerasan perang langsung di lima negara mayoritas Muslim di mana AS melakukan operasi militernya.
Potret suram Kumar mengenai Islamobia di AS mendapat dukungan dari hasil penelitian Institute for Social Policy and Understanding (ISPU) yang merilis “American Muslim Poll 2022”.
Laporan ISPU itu menunjukkan bahwa di era Pemerintahan Joe Biden, umat Islam tetap mengalami diskriminasi agama dibandingkan masyarakat umum dalam hal ketika:
1) Melamar pekerjaan (37 persen vs 6 persen), 2) Berinteraksi dengan penegak hukum (38 persen vs 10 persen), 3) Interaksi bandara (44 persen vs 3 persen), dan 4) Interaksi layanan kesehatan (27 persen vs 8 persen).
Penelitian ISPU juga menemukan bahwa platform internet dan media sosial adalah bentuk lain dari diskriminasi yang diterima Muslim Amerika.
Hampir setengah dari Muslim Amerika (46 persen) melaporkan beberapa bentuk diskriminasi anti-Muslim di media sosial sepanjang tahun 2022.
Termasuk diantaranya penghapusan postingan, penutupan akun, dan/atau dikeluarkan dari platform media sosial.
Studi Kumar dan ISPU ini penting untuk direnungkan AS. Setelah 22 tahun peristiwa 9/11, AS semestinya belajar dan menghentikan semua agenda politik Islamofobia-nya.
Dengan begitu, pertanyaan Why Do People Hate America? sebagaimana yang pernah dilontarkan Ziauddin Sardar dan Merryl Wyn Davies pada 2004 silam tidak lagi berlaku.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Asrudin-Azwar-Dosen-HI-FISIP-UNIJA-Direktur-Eksekutif-Suara-Politik-PublikSPP-4.jpg)