Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Warisan Peristiwa 9/11

Pada 11 September 2001 silam, dunia digemparkan oleh aksi terorisme di Amerika Serikat (AS).

Editor: Sudirman
Ist
Asrudin Azwar, Dosen HI FISIP UNIJA, Direktur Eksekutif Suara Politik Publik/SPP 

Menurut Kumar, bentuk kefanatikan yang khusus ini terus memiliki konsekuensi yang mengerikan - tidak hanya bagi orang-orang di negara-negara mayoritas Muslim yang menjadi sasaran Perang Melawan Teror, tetapi juga bagi umat Islam dan mereka yang “terlihat Muslim” di AS.

Kumar berpendapat bahwa Islamofobia bukan sekadar dipahami sebagai intoleransi agama, tapi juga sebagai bentuk rasisme.

Proyek rasisme AS ini memuncak saat Donald Trump terpilih menjadi Presiden AS pada 2016.

Ia telah menjalankan platform rasisme dan anti-imigran di dalam kebijakannya.

Namun, Kumar menunjukkan data bahwa sebelum Trump, rasisme anti-Muslim sebetulnya telah dilembagakan dalam masyarakat AS.

Kumar memberikan sejumlah contoh. Pertama, program lama FBI menganggap semua Muslim adalah teroris “potensial” dan FBI harus menangkap mereka sebelum mereka melakukan kejahatan.

Kemudian, NYPD dan departemen kepolisian lainnya menerapkan strategi yang sama.

Departemen kepolisian tersebut telah memata-matai masjid, pusat komunitas, bisnis milik Muslim, toko buku keagamaan, universitas dan «hot spot» lainnya di New York, Connecticut dan New Jersey.

Melalui contoh itu, Kumar kemudian menyajikan satu studi tentang daftar hukuman terkait terorisme oleh Departemen Kehakiman AS dari tahun 2001 hingga 2010.

Ia menemukan bahwa 72 persen dari kasus itu dasar hukumannya adalah ideologi terdakwa dan bukan aktivitas kriminal yang sebenarnya.

Logikanya: If you are sufficiently Muslim, you are sufficiently guilty.

Secara global, gambaran Kumar lebih suram lagi.

Pada tahun 2012, New York Times pernah memuat berita tentang “Terror Tuesdays”, praktik pertemuan Presiden Barack Obama dengan para penasihatnya setiap hari Selasa untuk menentukan daftar “teroris” yang harus dibunuh.

Daftar ini kadang termasuk warga AS, seperti Anwar al-Awlaki, yang tewas dalam serangan pesawat tanpa awak pada 30 September 2011.

Putranya yang berusia 16 tahun juga tewas dalam serangan pesawat tanpa awak dua minggu kemudian.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved