Kilas Tokyo Tribun Timur
Revitalisasi Penelitian
Karena inilah langkah utama paling awal dibangun negara negara maju sekarang.
Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar
Kita semua pasti sepakat, sulit bermimpi bisa menjadi negara maju dan besar, jika tidak punya pembangunan pendidikan yang maju disertai kekuatan riset dan teknologi.
Karena inilah langkah utama paling awal dibangun negara negara maju sekarang.
Bagaimana pembangunan pendidikan dan denyut riset di negara Jepang terkini? Negara ini punya tradisi panjang dalam pembangunan pendidikan.
Tidak perlu mengulas panjang lagi bagaimana peneliti negara ini sangat sering meraih Nobel Prize, aktif dalam pendaftaran ratusan ribu patent application, sangat banyak universitasnya masuk dalam 500 World University Ranking, juga siswa sekolahnya dalam Program for International Student Assessment Survey yang selalu berada di jajaran atas.
Tapi dalam beberapa tahun terakhir ini, terlihat ada tanda penurunan performance.
Indikasinya terlihat dari menyusutnya aplikasi paten terdaftar, berkurangnya rasio tamatan master doktor, juga turunnya jumlah paper akademik yang diterbitkan peneliti Jepang.
Belakangan ini, terasa ‘angin baru’ revitalize pendidikan berhembus. Menurut Japan Times, Perdana Menteri Fumio Kishida mengumumkan langkah dan visi kedepannya akan menarik 400.000 foreign student dari berbagai negara ke Jepang setiap tahunnya, sekaligus visi ingin mengirim 500.000 Japanese student ke luar negeri setiap tahun. Intinya, agar lebih meng-internasionalkan pendidikan tinggi di negara tersebut.
Ya, ada sebuah parameter positif yakni tingginya semangat warga negara asing belajar ke Jepang. Menurut data JASSO, trend berkembang dari sekitar 160 ribu ditahun 2011, setiap tahun jumlahnya bertambah terus, hingga mencapai 312 ribu ditahun 2019 sebelum pandemi Covied-19. Sayangnya, saat pandemi menyebari dunia, jumlahnya pun menurun hingga 242 ribu ditahun 2021.
Terbanyak berasal dari China, Vietnam, Nepal, Korea Selatan dan Indonesia.
Budget pendidikan dan riset juga menjadi kebijakan utama. Sejak tahun 2017 Pemerintah Jepang menerapkan kebijakan budget tinggi untuk pendidikan dan pengembangan riset. Ditahun 2021, Research and Development Expenditure sudah mencapai 19,74 Japanese trilyun yen. Memajukan pendidikan dan riset saja memang tidak cukup di target saja
Langkah langkah digitalisasi juga makin dipacu. Dibentuklah kementerian khusus Digitalisasi. Startup berlahiran, registrasi apapun kini direkomendasikan untuk melakukannya secara online. Kekurangan 790.000 tenaga IT tahun 2030 menurut prediksi Ministry of Economy Trade and Industry pun disiasati dengan memperkuat rekrutmen engineer pekerja IT dari negara asing.
Juga terasa kurang golongan wanita bergelut dibidang Science and Engineering. Menurut data OECD, persentase wanita Jepang mengambil jurusan ini di universitas hanya 7 persen; terendah di antara negara anggota.
Dibawah rata rata negara OECD yang 15 persen. Sebagai langkah mengatasi kesenjangan gender dan kekurangan tenaga kerja, wacana urgensitas menstimulasi lebih banyak wanita bergelut di bidang ini makin menguat.
Menurut laporan Yomiuri Shimbun tahun lalu, reformasi di universitas pun mulai muncul. Nara Women’s University menjadi universitas wanita pertama membuka fakultas teknik tahun ini. Universitas Ochanomizu juga berencana mendirikan sebuah Faculty of Transdisciplinary Engineering tahun 2024 nanti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Kolumnis-tetap-Kilas-Tokyo-Tribun-Timur-Muh-Zulkifli-Mochtar.jpg)