Opini
Tahun Baru Hijriah
Pergantian tahun baru hijriah menandai awal kalender Islam berdasarkan peristiwa hijrah Nabi saw.
Mahmud Suyuti
Dosen UIM dan Katib ‘Am Jam’iyah Khalwatiyah
Hari ini Jumat (21/07) bertepatan dengan 03 Muharram 1445 masih menjadi momen tahun baru Islam, yakni tahun baru hijriah berdasarkan almanak, penanggalan Qamariah.
Pergantian tahun baru hijriah menandai awal kalender Islam berdasarkan peristiwa hijrah Nabi saw.
Kalender tahun baru hijriah didasarkan pada peredaran bulan terdiri antara 354 atau 355 hari dalam setahunnya.
Tahun baru Hijriah mengingatkan kaum muslim atas perpindahan peta dakwah Nabi SAW dari Mekah ke Madinah sebagai fase perkembangan Islam.
Karena itu hijrah tidak dapat diartikan sebagai perpindahan simbol syar’iyah.
Hijrah bukan berarti perpindahan jilbab standar ke jilbab gombrang yang mereka istilahkan jilbab syar’iy.
Trend maraknya perpindahan jilbab instan ke khimar dengan ukuran besar bukanlah hijrah.
Beralih dari songkok hitam ke peci putih, dari baju batik ke gamis tidak kaitannya dengan hijrah.
Demikian penggunaan sikat gigi berpindah ke siwak sama sekali tidak bisa dimaknakan sebagai hijrah.
Hijrah adalah proses memperbaiki diri melalui muhasabah yakni instropeksi diri dari berbagai kesalahan.
Muhasabah ini dianjurkan bukan saja setiap tahun tapi setiap akan melakukan rencana agar tidak melakukan kesalahan.
Secara priodik muhasabah minimal dilakukan setiap awal tahun, tepatnya pada setiap pergantian tahun kita dianjurkan muhasabah dengan cara berniat memperbaiki diri.
Bertobat dari segala dosa dan berusaha untuk menebar kebaikan sepanjang tahun yang akan dilalui.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/mahmud-suyuti_.jpg)