Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Tahun Baru Hijriah

Pergantian tahun baru hijriah menandai awal kalender Islam berdasarkan peristiwa hijrah Nabi saw.

Editor: Sudirman
DOK
Mahmud Suyuti, Dosen UIM dan Katib ‘Am Jam’iyah Khalwatiyah 

Meskipun dalam pelaksanaannya ada yang berbelanja di luar dari kebiasaan umum yakni membeli pakaian baru, kulkas dan mobil baru.

Bubur Asyura

Mengakhiri separuh awal dari tahun baru hijriah ini, kita memasuki momen Asyura dianjurkan untuk makan menu yang sederhana. K

husus bagi yang berpuasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, dianjurkan berbuka dengan bubur Asyura, menu khas bubur yang terdiri dari sepuluh jenis bahan penganan.

Ketika bahtera Nabi Nuh AS berlabuh di bukit Ju’udi pada hari Asyura, bertanyalah kepada kaumnya.

Masih adakah bekal yang tersisa untuk dimakan ? umatnya kemudian mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang jumlahnya sepuluh jenis diramu menjadi bubur Asyura.

Sepuluh bahan bubur Asyura adalah satu genggam gandum, kacang adas, kacang hintah, kacang ba’ruz, baqilah (kacang poi), tepung, daging ikan, dedaunan, garam dan santan.

Disatukanlah bahan-bahan tersebut kemudian dimasak menjadi santapan lezat berupa bubur.

Jika penganan bubur tidak mencukupi sepuluh jenis bahan seperti yang disebutkan atau jika kurang dari itu maka tidak dapat disebut bubur Asyura.

Saat sekarang ini untuk membuat bubur Asyura, tergantung kesukaan jenis bahan mana yang cocok dan sesuai asalkan jumlahnya sepuluh jenis bahan ramuan, itulah bubur Asyura.

Bubur Asyura dihidangkan dalam keadaan panas dan ada cara khusus mencicipinya, yaitu dengan mengambil sebuah sendok sedikit demi sedikit mulai dari pinggir piring atau mangkok secara memutar mulai dari arah sebelah kanan.

Ini sebagai salah satu seni menyantap bubur Asyura agar terasa hangat karena makanan dan minuman berdasarkan hadis Nabi SAW tidak boleh ditiup.

Makna lain sebagai simbol sekaligus hikmahnya, adalah mencontoh strategi Nabi SAW setiap berjihad, berperang dengan bergerak dari pinggir melalukan serangan secara perlahan menuju ke tengah membuat parit-parit yang menghalangi lawan.

Demikianlah juga dalam melakukan usaha, dimulai dari usaha kecil-kecilan untuk menuju usaha besar dan menjadi pengusaha sukses yang berberkah. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.(*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved