Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Perempuan dan Esensinya dalam Penyiaran

Perempuan merupakan bagian penting sebagai sumberdaya manusia yang multi peran dalam dunia penyiaran.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/sitti hamidah
Komisioner KPID Sulsel Siti Hamidah. 

Oleh:
Siti Hamidah
Komisioner KPID Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Penyiaran sesuai dengan amanat UU 32 tahun 2002 sebagai kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.

Diatur pula didalamnya mengenai frekwensi yang semaksimal mungkin dipergunakan untuk kepentingan publik.

Siaran televisi dan radio yang sejatinya dipancarluaskan untuk kepentingan memberikan informasi, edukasi, hiburan dan perekat sosial bagi masyarakat tentu mengadirkan beragam kemungkinan.

Kemungkinan yang baik akan menimbulkan hal positif yang dapat memperluas wawasan serta pengetahuan publik.

Namun hal negatif mampu menghegemoni publik melalui tayangan yang justru menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

“Perempuan” merupakan bagian penting sebagai sumberdaya manusia yang multi peran dalam dunia penyiaran.

Enam hal yang menjadikan perempuan sebagai perhatian khusus yaitu Perempuan sebagai pemeran dan sasaran iklan.

Di mana perempuan sebagai objek yang dapat mempengaruhi pemirsa melalui iklan yang menjadi folkways dengan pendekatan hegemoni yang menggambarkan idealnya perempuan cantik yang sejatinya perempuan ingin terlihat seperti hal tersebut.

Pengaruh iklan yang diperankan perempuan terhadap produk yang memungkinkan akan digunakan konsumen perempuan pula agar dapat menaikkan minat pembeli terhadap produk tersebut, sehingga hal ini menjadi salah satu perhatian yaitu pengawasan terhadap iklan bagi Komisi Penyiaran Indonesia.

Perempuan sebagai pemeran pada meteri program siaran.

Hal yang kadang terjadi pada pemeran perempuan justru menstereotipe dan mensubordinasi dengan peran-peran domestik yang menggambarkan ketidaksetaraan.

Bahkan pelemahan terhadap peran perempuan yang diidentikkan dengan karakter yang lemah dan hanya dapat mengerjakan pekerjaan rumah yang kemudian menjadi pembenaran bagi pemirsanya.

Hal lain seperti judul sinetron yang menyudutkan perempuan, visualisasi yang mengekspos tubuh perempuan, pemilihan angel dan caption foto/gambar pada tubuh perempuan.

Penetrasi perempuan sebagai pemirsa TV mencapai 56 persen, sehingga kualitas siaran salah satunya ditentukan oleh pemirsa perempuan ditengah kepentingan “ratting” yang dijadikan tolak ukur minat kepemirsaan bagi industri penyiaran, maka penting kesadaran bagi perempuan memilih siaran yang berkualitas sebagai salah satu bentuk keberdayaan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved