OPINI
Opini: Ganjar Pranowo Sebagai Capres Tesa Istana
Lalu bagaimana episode politik pasca pancapresan Ganjar Pronowo oleh PDIP?
Oleh: Basti Tetteng (Dosen Psikologi Politik Universitas Negeri Makassar)
Jumat 21 April 2023 bertetapan akhir ramadhan 1444 H, Ganjar Pranowo akhirnya di deklarasikan sebagai Calon Presiden (Capres) oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), setelah sekian ama dikesankan sebagai sosok yang tidak mesra dengan ibu Megawati dan PDIP itu sendiri.
Bahkan selama ini sebagian publik sudah mempersepsikan “sudah tidak ada tempat” bagi Ganjar Pranowo diusung capres oleh PDIP, karena sebelumnya juga santer disebut Puan Maharani adalah bakal capres satu satunya dari PDIP. apatahlagi juga kuat sinyal kubu Golkar, PPP, dan PAN yang tergabung dalam Koalisi Indonesia bersatu (KIB) akan mengusung Ganjar Pranowo. Tapi itulah politik selalu berlaku “tidak ada yang tidak mungkin dalam politik”, selalu ada kemungkinan dan kejutan kejutan yang tidak terduga sebelumnya.
Lalu bagaimana episode politik pasca pancapresan Ganjar Pronowo oleh PDIP?. Ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Salah satu yang menarik adalah peta koalisi kemungkinan akan mengalami perubahan secara signifikan.
Potensi terbentuknya Koalisi besar
Setelah Ganjar Pranowo telah resmi dideklarasikan sebagai capres oleh PDIP, maka salah satu analisis prediksi yang menarik adalah adanya kemungkinan peta koalisi akan mengalami perubahan, yakni terbentuknya suatu koalisi besar “istana” di bawah komando Jokowi dan Megawati. Partai Politik berpotensi besar merapat dan atau di lobby bergabung pada koalisi besar tersebut adalah partai yang tergabung dalam KIB dan KIR yang selama ini di anggap sebagai “sekutu” Istana , artinya jika ini terjadi maka KIB dan KIR akan bubar di tengah jalan, karena sudah melebur dalam suatu koalisi besar bersama PDIP mengusung capres Ganjar Pranowo.
Mengapa KIB (Golkar, PAN, PPP) bakal merapat pada koalisi besar pimpinan Jokowi dan Megawati? Barangkali alasan utamanya adalah karena KIB tidak lagi memiliki Figur kuat kandidat Capres untuk di usung, sebab Ganjar Pranowo yang selama di gadang gadang bakal jadi capres dari kubu mereka, ternyata di capreskan oleh PDIP. Ketiadaan pigur kuat sebagai capres di kubu KIB tentu menyulitkan mereka untuk tetap bersepakat bersatu mengusung capres sendiri. Kalau pun kubu KIB tetap “memaksakan diri” mengusung capres sendiri, maka pembacaan publik, upaya tersebut tidak lebih dari sekedar sebagai upaya konsolidasi penguatan internal masing masing partai saja agar pemilih mereka tidak lari ke partai lain atau kubu capres lain, terutama kubu capres non istana.
Bagaimana dengan kubu KIR (Gerindra dan PKB) ?, kubu ini juga sangat rentan merapat bergabung dengan koalisi besar pimpinan Jokowi dan Megawati, sebab dengan majunya Ganjar Pranowo capres PDIP, membuat peluang Prabowo Subyanto yang selama ini telah dicapreskan kubu KIR menjadi “mengecil” potensinya menang pada pertarungan capres 2024, karena berhadapan dengan Ganjar yang telah di usung oleh koalisi partai besar, dengan elektibilitas yang lebih tinggi dari Prabowo Subyanto. Dalam situasi ini besar kemungkinan Prabowo Subyanto akan menawarkan diri / di tawarkan posisi sebagai cawapres dari Ganjar Pranowo karena berdasarkan beberapa survey memprediksi pasangan tersebut punya potensi menang dalam kontestasi Pilpres 2024.
Jika pilihan Prabowo memilih tetap maju capres melalui KIB dengan berpasangan dengan Muhaimin Iskandar (PKB), maka pertanyaannya adakah hal itu berkaitan dengan pertimbangan untuk lebih “menjaga marwah partainya dan marwah pribadinya yang sudah terlanjur mendeklarasikan diri sebagai capres, ketimbangan benar benar serius untuk menang?. Ataukah pilihannya balik kanan saja Anies Baswedan untuk mengembalikan kepercayaan umat Islam yang selama tergerus karena berkoalisi Jokowi ?
Pencalonan Ganjar Pranowo sebagai Capres oleh PDIP dengan dukungan koalisi besar partai politik, di samping karena faktor kegagalan Puan Maharani mendorong elektebilitasnya, juga tidak lepas dari peran penting Jokowi sebagai “ketua kelas”. Peran Jokowi tersebut telah ditunjukkan secara terbuka ke publik dalam berbagai kesempatan, termasuk hadir secara langsung pada saat deklarasi Ganjar Pranowo sebagai Capres PDIP. Hal Ini merupakan petunjuk yang kuat bahwa sejatinya Ganjar pronowo adalah “orang istana”, pro pada kepentingan istana (tesa istana), orang terpercaya rezim sebagai penerus, pewarisi warna dan watak kepemimpinan Jokowi, ataukah hanya sekedar “copy paste” kepemimpinan Jokowi (yang lebih pro oligarki, dan tidak “ramah” kepada semua kelompok Islam”?). Ganjar Pranowo adalah orang yang di endorse secara khusus sejak awal untuk dipromosikan dan diperjuangkan menjadi presiden 2024. Mengendorse capres secara serius dan terbuka adakah itu pernah dilakukan oleh presiden sebelumnya? Tentu publik bertanya mengapa Jokowi terlibat secara langsung dan sangat serus mengondorse capres? adakah itu berkaitan kepentingan politik untuk lebih mengamankan diri pasca tidak lagi menjadi presiden?, ataukah jika Ganjar Pranowo presiden, ada peluang Jokowi mengambil alih PDIP sekaligus melepaskan PDIP dari trah Soekarno ? atau ada sebab lain? wallahu’alam. Fastabiqul khairat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/basti-tettang-unm.jpg)