Idul Fitri 2023
Bilakah Idul Fitri Bisa Selalu Serempak?
Hisab wujudul hilal hanya mensyaratkan ijtimak qablal ghurub dan tinggi hilal di atas 0°. Metode ini sangat mungkin didebat terutama dari aspek syaria
Bilakah Idul Fitri Bisa Selalu Serempak?
( Menanggapi Munculnya Lebaran Versi Pemerintah dan Lebaran Versi Muhammadiyah )
Oleh: Firdaus Muhiddin
Koordinator Bidang Observasi BMKG Stasiun Geofisika Gowa
TRIBUN-TIMUR.COM - Tahun ini Idul Fitri berpotensi terjadi 2 versi yakni versi Muhammadiyah yang berpatokan pada kriteria hisab wujudul hilal dan versi pemerintah yang biasanya berpatokan pada hasil rukyatul hilal wilayatul hukmi dalam hal ini wilayah hukum Indonesia.
Hal itu karena ketinggian hilal berdasarkan hisab untuk wilayah Indonesia pada 29 ramadhan yang bertepatan dengan 20 April 2023 masih berkisar antara 0,75° hingga 2,36° yang secara teoritik dan empirical tidak mungkin bisa terlihat bahkan dengan alat teropong yang paling canggih sekalipun.
Keteramatan Hilal dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya :
1. Faktor Astronomis meliputi:
a. Jarak bulan terhadap Horison (Ufuk) yakni tinggi hilal dimana semakin dekat ke horizon
semakin pekat kondisi atmosfer yang akan semakin meningkatkan disperse cahaya matahari sehingga hilal akan semakin sulit terlihat. Secara empirical tinggi hilal minimum yang pernah terlihat dengan bantuan alat teleskop adalah 3° untuk lintang tinggi dan 5° untuk lintang rendah seperti Indonesia.
b. Jarak bulan terhadap matahari atau elongasi di mana semakin dekat dengan matahari semakin sulit bulan utuk terlihat. Secara empirical elongasi terkecil yang pernah terlihat adalah 6°.
c. Jarak bulan terhadap bumi yang berimplikasi pada lebar bulan sabit yang terbentuk. Semakin jauh jarak bulan terhadap bumi semakin kecil lebar bulan sabit sehingga semakin tipis hilal yang berarti semakin sulit untuk terlihat.
2. Faktor cuaca di mana kondisi ufuk yang berawan akan menghalangi pengamat dari kenampakan hilal. Karenanya pemilihan lokasi pengamatan hilal sangat penting untuk meningkatkan potensi keteramatan hilal. Secara umum informasi iklim bisa cukup membantu untuk memilih lokasi pengamatan hilal yang tepat. Sebagai illustrasi pengamatan hilal di kupang cenderung lebih berpotensi untuk melihat hilal dibandingkan di daerah seperti Padang yang cenderung sering berawan.
3. Faktor kontras hilal yakni perbandingan tingkat kecerlangan obyek hilal terhadap kecerlangan langit sebagai latar hilal. Hilal hanya mungkin untuk terlihat jika tingkat kecerlangan bulan lebih besar dari tingkat kecerlangan langit sehingga semakin gelap langit semakin besar potensi terlihatnya hilal.
5 tahun terakhir alhamdulillah hilal selalu teramati di Indonesia karena factor-faktor tersebut di atas terpenuhi khususnya syarat astronomis yakni ketinggian hilal dan elongasi. Namun tahun ini sangat mungkin hilal tidak dapat teramati karena ketinggian hilal yang relative terlalu rendah yakni di bawah 3°. Hal ini tentu kembali meresahkan masyarakat secara luas. Bilakah Hari Raya idul fitri bisa selalu serempak tanpa dihantui oleh was-was lebaran 2 versi, lebaran versi pemerintah dan lebaran versi Muhammadiyah, versi hisab dan versi rukyat.
Untuk menjawab hal ini tentu saja butuh jalan tengah yang elegan.
Jalan tengah diambil dengan lebih dulu mengidentifikasi 2 kutub perbedaan dan kemudian mencari titik temu dari keduanya. Identifikasi 2 kutub dapat dibagi dalam 2 domain aspek yakni aspek subjek atau pelaku yang berbeda dan aspek predikat atau teknis yang menyebabkan perbedaan.
Aspek yang pertama adalah aspek pelaku yakni pemerintah melawan ormas dalam hal ini Muhammadiyah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Firdaus-Muhiddin.jpg)