Opini
Menjaga Marwah Perpustakaan
Perpustakaan sebagai ruang pembangunan intelektualnya, tempat peribadatan sebagai penopang emosional dan spritualnya.
Perpustakaan sebagai ruang pembangunan intelektualnya, tempat peribadatan sebagai penopang emosional dan spritualnya.
Itulah sebabnya, perpustakaan dan tempat peribadatan masuk dalam daftar target utama penghancuran setiap kali terjadi peperangan.
Selain disetarakan dengan tempat peribadatan, perpustakaan juga sering kali digandengkan dengan sekolah sebagai pemeran utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Tak heran jikalau Fernando Baez (Penulis Buku Penghancuran Buku dari Masa ke Masa) pernah berujar bahwa, satu-satunya yang berhak menjadi Jenderal dalam menghadapi perang kebodohan adalah pengelola perpustakaan (Pustakawan).
Begitu vitalnya peran perpustakaan dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai pengelola perpustakaan, wacana semacam ini mesti menjadi konsumsi sehari-hari, agar kita mampu mengejawantahkan itu di lapangan, dalam rangka menjaga dan mengutuhkan marwah perpustakaan sebagai ujung tombak peradaban.
Dan hal itu mesti sampai di telinga pemustaka. Dengan begitu, perpustakaan akan menjelma menjadi gedung yang bukan hanya sekadar dikunjungi, tapi juga untuk disakralkan dan dihargai.
Bukankah Ray Bradbury telah menegaskan : “Tanpa perpustakaan, kita tidak akan punya masa lalu dan masa depan”. Lalu, atas dasar apa kita nekat menginjak-injak marwah perpustakaan?(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Hery-SIP-MIP-Pustakawan-Dinas-Perpustakaan-Parepare-b.jpg)