Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Menjaga Marwah Perpustakaan

Perpustakaan sebagai ruang pembangunan intelektualnya, tempat peribadatan sebagai penopang emosional dan spritualnya.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/hery
Hery SIP MIP Pustakawan Dinas Perpustakaan Parepare. 

Oleh:
Hery SIP MIP
Pustakawan Dinas Perpustakaan Parepare

TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa waktu yang lalu, publik dihebohkan dengan viralnya berita seorang dosen bergelar magister pendidikan berbuat asusila dengan mahasiswinya. Ironisnya, aksi bejat itu dilakukan di perpustakaan.

Dilansir dari TribunEnrekang.com, oknum dosen berinisial AR itu dipergoki oleh satpam kampus saat sedang berduaan di aula perpustakaan kampus II Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN), Sulawesi Selatan (Sulsel), Minggu (12/2/2023) malam.

Kasus perpustakaan dijadikan sebagai lokasi mesum bukanlah hal yang baru. Namun, telah terjadi di berbagai lokasi berebeda.

Salah satunya juga pernah terjadi di wilayah Kabupaten Bone. Seorang pria berinsial MS (32) dilaporkan telah berbuat mesum dengan seorang pelajar di ruang perpustakaan sekolah (Dilansir dari media Aspirasi Post, yang tayang pada 27 Desember 2019).

Dalam jangkauan yang lebih luas, kasus serupa juga pernah heboh di Kanada.

Seorang wanita muda berusia 21 tahun memamerkan aksi mesumnya di sebuah perpustakaan dan menyiarkannya di dunia maya (Dilansir dari media Mirror, yang tayang pada 10 April 2015).

Fakta-fakta ini seolah memberikan pesan tersirat bahwa perpustakaan adalah tempat yang paling strategis untuk melakukan adegan intim.

Hal ini dikuatkan pula dengan banyaknya serial film maupun drama yang menyuguhkan potret adegan tak senonoh itu dilakukan di perpustakaan.

Beberapa yang berhasil ditelusuri oleh penulis adalah serial The Crowned Crown yang diperankan oleh Lee Se Young dan Yeo Jin.

Drama China berjudul So It’s You yang dibintangi oleh Derek Chang. Drama berjudul Plus Nine Boys yang diperankan oleh Yook Sung Jae dan Chorong A Pink. Serial Korea berjudul Seonam Girls High School Investigators.

Drama berjudul Hwayugi yang diperankan oleh Lee Seung Gi dan Oh Yeon Seo. Dan drama-drama lainnya yang tak sempat penulis urai satu demi satu.

Entah apa yang menjadi sebab, sering kali perpustakaan dipilih sebagai tempat untuk itu.

Mungkin karena kondisinya yang cenderung sepi dan banyak sekat untuk bersembunyi.

Sehingga lebih mudah bagi mereka mencuri-curi kesempatan untuk itu.

Mungkin juga karena orang-orang yang berkunjung ke perpustakaan lebih fokus dengan bacaannya, sehingga tidak memiliki waktu untuk memperhatikan segala yang ada di sekelilingnya.

Dalam kondisi itu, oknum-oknum akan lebih leluasa menggeliatkan aksinya.

Apapun alasannya, hal itu menimbulkan banyak persepsi negatif dari masyarakat tentang perpustakaan.

Mulai dari dianggap memiliki tingkat pengawasan yang buruk, hingga dituding lemah dalam melakukan pendidikan pemustaka.

Atas dasar itu, kondisi ini mesti menjadi perhatian pengelola, agar potensi semacam itu tertutup ruangnya terjadi di perpustakaan.

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk itu. Pertama, mendesain layanan dengan basis pengawasan yang tinggi.

Bisa dengan bantuan teknologi CCTV atau menempatkan Pustakawan di sejumlah titik area perpustakaan.

Dengan pengawasan seketat demikian, para pemustaka yang “nakal” akan berfikir beribu kali untuk menjalankan aksi nekatnya.

Jadi, pengetatan pengawasan itu dilakukan tidak hanya untuk menjaga keamanan koleksi, tapi juga untuk menghindari kejahilan oknum pemustaka yang punya niatan buruk melakukan hal tak etis.

Itulah sebabnya, Guru Besar Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Sulistyo Basuki jauh hari telah mengingatkan bahwa faktor penyebab kerusakan tertinggi perpustakaan adalah manusia. Mestinya hal ini menjadi perhatian bersama.

Selain bertujuan untuk mengetatkan pengawasan, penempatan Pustakawan di berbagai titik area tersebut juga akan memudahkan pemustaka untuk menanyakan tentang seluk-beluk kebutuhannya, tanpa harus bolak-balik ke meja pelayanan (sirkulasi).

Kedua, melakukan pendidikan pemustaka yang massif. Secara teoritis, pendidikan pemustaka adalah kegiatan membimbing dan memberikan petunjuk kepada pemustaka agar mampu memanfaatkan layanan perpustakaan secara efektif dan efisien.

Di era disrupsi saat ini, pendidikan pemustaka tak boleh lagi dimaknai sesempit itu. Ia mesti menyentuh seluruh aspek tentang dunia kepustakawanan. Baik itu tentang layanannya, sejarahnya, hingga peran sosialnya.

Hal ini dilakukan untuk membangun marwah perpustakaan di mata pemustaka, agar tak ada yang berani menginjak-injaknya dengan tindakan yang tidak senonoh.

Apalagi, dalam rekam jejak sejarah, perpustakaan menjadi pondasi penting pembangunan peradaban. Bahkan, dalam beberapa literatur disebutkan bahwa peran vital perpustakaan dalam kehidupan masyarakat disetarakan dengan tempat peribadatan.

Perpustakaan sebagai ruang pembangunan intelektualnya, tempat peribadatan sebagai penopang emosional dan spritualnya.

Itulah sebabnya, perpustakaan dan tempat peribadatan masuk dalam daftar target utama penghancuran setiap kali terjadi peperangan.

Selain disetarakan dengan tempat peribadatan, perpustakaan juga sering kali digandengkan dengan sekolah sebagai pemeran utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tak heran jikalau Fernando Baez (Penulis Buku Penghancuran Buku dari Masa ke Masa) pernah berujar bahwa, satu-satunya yang berhak menjadi Jenderal dalam menghadapi perang kebodohan adalah pengelola perpustakaan (Pustakawan).

Begitu vitalnya peran perpustakaan dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai pengelola perpustakaan, wacana semacam ini mesti menjadi konsumsi sehari-hari, agar kita mampu mengejawantahkan itu di lapangan, dalam rangka menjaga dan mengutuhkan marwah perpustakaan sebagai ujung tombak peradaban.

Dan hal itu mesti sampai di telinga pemustaka. Dengan begitu, perpustakaan akan menjelma menjadi gedung yang bukan hanya sekadar dikunjungi, tapi juga untuk disakralkan dan dihargai.

Bukankah Ray Bradbury telah menegaskan : “Tanpa perpustakaan, kita tidak akan punya masa lalu dan masa depan”. Lalu, atas dasar apa kita nekat menginjak-injak marwah perpustakaan?(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved