Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Latto-Latto Melampaui Batas Bahasa

Permainan Latto-Latto diperuntukan kepada anak-anak, namun orang dewasa ataupun orang tua juga acap memainkannya.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/arif hukmi
Arif Hukmi Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Makassar. Arif Hukmi penulis Rubrik Opini Tribun Timur berjudul 'Latto-Latto Melampaui Batas Bahasa'. 

Oleh:
Arif Hukmi
Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Makassar
Mahasiswa Prodi Magister Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Sesuatu hal, perihal apapun itu, tentu saja acapkali diawali dengan sebuah pertanyaan, seperti halnya Latto-Latto. Sebuah permainan yang kini ramai dimainkan oleh segala kelompok usia, dari berbagai kalangan.

Permainan yang terdiri dari dua buah bola plastik yang digantungkan pada tali yang seimbang.

Lalu pada ujung talinya terdapat cincin untuk menyelipakan jari untuk kemudian diayungkan, hingga pada akhirnya menimbulkan bunyi tak tak tak.

Meskipun sebenarnya, permainan Latto-Latto diperuntukan kepada anak-anak, namun orang dewasa ataupun orang tua juga acap memainkannya.

Mengapa Latto-Latto?

Yang menarik dari permainan ini adalah perihal penamaan. Mengapa diberi nama Latto-Latto?

Menurut data dari Laboratorium Kebinekaan Bahasa dan Sastra, Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat sekitar 718 bahasa daerah yang tersebar di selururh Indonesia.

Dari ratusan bahasa tersebut, mengapa permainan clackers ball—nama permainan ini di negara asalnya Amerika Serikat, di Indonesia disebut atau diberi nama Latto-Latto yang notabene berasal dari bahasa Makassar.

Secara letak geografis Makassar berada di bagian Timur, bukan sebagai pusat peradaban di Indonesia layaknya Jakarta atau Jawa, alih-alih persebaran populasi yang ada.

Kata dasar “Latto” dalam kamus bahasa Makassar-Indonesia yang disusun oleh Aburaerah Arief dan diterbitkan Yayasan Perguruan Islam Kapita DDI Tahun 1995 diterjemahkan sebagai “Detak”, sungguh puitik sebenarnya.

Berangkat dari terjemahan tersebut “Latto-Latto dapat berarti “Berdetak-Detak”. Menurut Pendapat Dosen Sastra Daerah, Universitas Hasanuddin, Dr. Firman Saleh, “Latto’ itu bunyi yang dikeluarkan akibat 2 benturan benda sehingga mengeluarkan bunyi.

Dalam kajian kebahasaan disebut sebagai reduplikasi yang berarti sering, selalu atau berulang sehingga disebut “Latto-Latto”—terjadi proses reduplikasi atau pengulangan dari kata dasar “Latto”.

Sebab dua bola plastik ketika bersentuhan menghasilkan sebuah bunyi, sehingga Makassar memberinya nama “Latto-Latto” hinga tersebar melampau batas geografis karena sebuah algoritma.

Di Makassar, pada setiap sudut ruang, tak mengenal waktu, dimana pun terdengar bunyinya dan akan mendengar suara “tak, tak, tak” dalam waktu yang begitu lama.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved