Opini
Derita Kehidupan dan Kebahagian Virtual
Pada dunia virtual setiap orang bisa melampaui kecacatan dirinya, dari terobosan 360 hingga filter pengalus wajah paling mutakhir.
Kita mulai menikmati kesenangan dunia virtual yang remeh-temeh. Dunia virtual kelihatannya lebih menggairahkan dibanding dunia nyata. Lihatlah di sekeliling!
Kita seringkali berkumpul tapi tidak bersama, bertemu tapi tidak berjumpa. Itu semua karena mereka sudah berbahagia dalam medan virtual.
Dalam kehidupan virtual orang bisa melampaui dirinya yang ril. Jika dunia nyata memberikan batasan maka dunia virtual menawarkan pembebasan.
Diri yang virtual sedang mengalami skizofrenia dalam arti positifnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Gilles Deleuze dan Guattari dalam Anti Oedipus: Capitalism and Schizophrenia bahwa kondisi ini bukanlah penyakit jiwa seperti yang dijelaskan oleh freud melainkan sebuah upaya pembebasan diri dari berbagai aturan, kode dan konvensi (sosial, etis, budaya dan ikhwal keagamaan).
Dunia Nyata dan Krisis Pengakuan
Lebih dari separuh penduduk dunia termasuk Indonesia telah melakukan migrasi ke dalam dunia virtual. Mereka sudah membentuk keseharian dan rutinitasnya, pendeknya setiap kita sudah mempunyai realitas virtualnya sendiri.
Belum lagi tawaran untuk membuat avatar kita masing-masing. Namun, fenomena ini mengisyaratkan satu gejala epidemi sosial dunia nyata, dimana ruang hidup dan kehidupan dunia nyata kita mungkin tidak lagi bersahabat.
Setiap individu mengalami penderitaan atas berbagai standar hidup yang memaksa setiap orang.
Dunia nyata penuh dengan standar-standar umum, ia berupa nilai, norma bahkan tentang standar sukses dan bahagia.
Dunia semacam ini memaksa setiap hidup untuk seragam sesuai cara pandang orang kebanyakan.
Bagi Sartre, kondisi ini adalah Hell is other people iya, orang lain adalah neraka.
Artinya dimana orang-orang menjadi pemaksa dan pemangsa atas jalan berbeda setiap hidup seseorang. Kehidupan yang berbeda mendapatkan konsekuensi sosiologisnya, bahwa individu yang tidak berprilaku sesuai dengan standar nilai dan norma masyarakat maka cenderung diasingkan.
Pada kondisi tersebut kita menjumpai bahwa kehidupan sosial kita kadang tidak bersahabat dengan yang berbeda. Bukan hanya itu, kadang juga justru menjadi ancaman terhadap kehidupan yang berbeda.
Pada titik tertentu kita merasakan semacam defisit pengakuan bahkan kecemberuan, iri dan ketidaksenangan melihat yang lain dalam capaian terbaiknya. Tepat di sana dunia virtual memfasilitasi ruang pengakuan melalui vitur like, komen, love dll.,
Kecenderungan kita memang gandrung berpindah dari satu kesenangan menuju kesenangan lainnya. Realitas virtuallah yang menawarkan kita hidup semacam itu. Kita bisa berpindah dari satu kesenangan hiburan layar menuju hiburan layar lainnya.
Berselancar setiap detik, menit bahkan berjam-jamtanpa tanpa disadari. Sedangkan dunia nyata dipenjara oleh rutinitas yang mekanis hampir membuat makna hidup hilang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Sopian-Tamrin1.jpg)