Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Derita Kehidupan dan Kebahagian Virtual

Pada dunia virtual setiap orang bisa melampaui kecacatan dirinya, dari terobosan 360 hingga filter pengalus wajah paling mutakhir.

Tayang:
Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/sopian tamrin
Sopian Tamrin Dosen Sosiologi FIS-H UNM. Sopian Tamrin penulis Opini Tribun Timur berjudul 'Derita Kehidupan dan Kebahagian Virtual'. 

Oleh:
Sopian Tamrin
Dosen Sosiologi FIS-H UNM
Pemuda ICMI Makassar
KNPI Sulsel
Direktur Edu Corner

TRIBUN-TIMUR.COM - Dunia yang kita hidupi adalah dunia yang dipenuhi dengan kegalauan. Keterbatasan untuk memenuhi keinginan membawa setiap orang masuk dalam kubangan kegalauan.

Jika bisa mengelola dengan baik maka itu mendewasakan tetapi jika tidak, maka sebaliknya bisa menjadi derita.

Setiap orang memiliki kadar deritanya masing-masing. Menderita karena tekanan pekerjaan, menderita karena masalah keluarga, dan berbagai kenyataan yang tidak bersahabat dengan harapan. Kita tersandera oleh waktu bersama derita.

Di mana rutinitas dunia nyata terlalu menyuguhkan keseriusan. Kemudian muncullah istilah healing sebagai jalan keluar dari ruang sesak itu. Namun itu tidak lebih dari informasi tentang teriakan jiwa dari ruang penjara keseharian.

Dunia Virtual dan Tawaran Kebahagiaan

Tepat pada dunia seberang kenyataan, hadir sebuah dunia virtual.

Di mana menyediakan berbagai macam sarana untuk membahagian diri. Jika dunia nyata menyediakan setumpuk keseriusan maka dunia virtual menyediakan keremehtemehan.

Pada keremehtemehan itulah kita kadang memetik rasa bahagia dari penatnya kenyataan dunia. Dunia virtual memang menjadi fasilitas sekaligus aksesibilitas untuk mencapai imajinasi atas harapan yang tidak tercapai pada kenyataan.

Pada dunia virtual setiap orang bisa melampaui kecacatan dirinya. Mulai dari terobosan 360 hingga filter pengalus wajah paling mutakhir.

Kita juga bisa terkoneksi dengan komunitas yang disukai. Memajang diri di sudut ruang yang sedang viral atau mungkin menampilkan makanan yang dicari banyak orang.

Pendeknya kita merealisasikan harapan yang tidak tercapai pada kenyataan bahkan cenderung melampauinya.

Kita menciptakan simulasi tanda demi mencapai citra diri yang paling diidealkan.

Meskipun penciptaan citra itu sendiri tidak lagi mengikuti referensi aslinya. Kadang yang diciptakan adalah hiperrealitas (baca: bauddrillard). Realitas tanpa referesentasi.

Implikasinya dalam aktivitas komunikasi tidak ada lagi pertukaran makna sebagaimana tanda semula. Kondisi ini disebut Baudrillard sebagai ekstasi komunikasi.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved