Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Perspektif

Dilema Kebijakan Suku Bunga Tinggi

El-Rien menjelaskan bahwa suku bunga tidak dapat diharapkan sebagai instrumen memitigasi berbagai masalah perekonomian yang mendera dunia.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/marsuki
Marsuki Guru Besar FEB Unhas dan Anggota API. Marsuki menulis catatan ekonom berjudul 'Dilema Kebijakan Suku Bunga Tinggi'. 

Oleh:
Marsuki
Guru Besar FEB Unhas dan Anggota API

TRIBUN-TIMUR.COM - Menarik pendapat beberapa ekonom terkenal Amerika dalam waktu terakhir ini di media internasional, Fortune.

Diantaranya, Mohamed El-Erian yang mengemukan keraguannya terhadap tren kebijakan suku bunga bank sentral AS., The Fed yang agresif untuk memitigasi ancaman krisis akibat inflasi, karena menganggap bahwa inflasi tinggi hanya bersifat sementara.

Sehingga ada konsensus bahwa resesi bisa berlangsung singkat jika inflasi segera ditangani, cukup dengan menaikan suku bunga kebijakan bank sentral.

El-Rien menjelaskan bahwa suku bunga tidak dapat diharapkan sebagai instrumen memitigasi berbagai masalah perekonomian yang mendera dunia sejak 3 tahun terakhir hanya melalui target menstabilkan inflasi.

Baginya, ancaman resesi tersebut benar ada tapi tidak seperti resesi biasanya yang diduga selama ini, bahkan dianggapnya resesi ini bisa lebih dalam, akibat kurang tepatnya otoritas moneter khususnya dalam memilih instrumen kebijakan yang dilaksanakan, sepert menaikkan secara agresif suku bunga kebijakannya.

Merujuk pada konsep ekonomi, El-Erian menerangkan bahwa resesi terjadi ketika siklus bisnis turun mencapai titik akhir bawah alaminya, kemudian bertahan dalam rentang waktu tertentu, karena tidak ada putaran siklus bisnis terjadi akibat aktivitas ekonomi tertahan.

Pada periode itu, resesi menjadi persoalan berat untuk ditangani oleh hanya otoritas moneter, denganphanya menaikkan suku bunga kebijakannya, karena saat itu masalah sudah meluas ke aspek lainnya, seperti krisis proses produksi, krisis ketenagakerjaan, dan krisis pada pasar keuangan.

El-Erian menyoroti proses ancaman resesi tersebut sebagai proses berlangsungnya pergeseran dalam perekonomian global yang disebabkan oleh tiga tren transformasi yang saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya.

Tren transformasi pertama berakhirnya likuiditas tanpa batas dari bank sentral.

Kedua, karena adanya pergeseran dari permintaan yang tidak dapat dipenuhi akibat pasokan yang terbatas.

Dan ketiga, meningkatnya kerapuhan pasar keuangan. Itulah sebabnya, mengapa perkembangan ekonomi tidak akan seperti biasanya kedepan ini.

Sebab akan semakin banyak kondisi ketidakpastian, sehingga guncangan ekonomi dan keuangan akan semakin sering terjadi dan semakin berat.

Transformasi pertama didorong oleh efek pandemi, dimulai dengan terhentinya aktivitas ekonomi, sehingga terjadi kebijakan kucuran stimulus keuangan dilakukan pemerintah secara besar-besaran.

Dampaknya, menyebabkan permintaan melonjak melebihi pasokan yang tersedia di pasar.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved