Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Peradaban Baru

Pemilihan dan penghitungan suara menggunakan sistem “e-voting (electronic vote)”.   

Editor: Saldy Irawan
INFOGRAFIS TRIBUN TIMUR
Anwar Arifin AndiPate 

Oleh Anwar Arifin AndiPate


     
TRIBUN-TIMUR.COM - MUNAS XI Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), yang dibuka Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, 25 November 2022 di Palu Sulawesi Tengah. Kemudian ditutup Koordinator Presidium Ahmad Doli Kurnia, 27 November 2022 pagi. 

Munas ke-11 KAHMI telah memilih Presidium 2022-2027 yaitu:Ahmad Doli Kurnia Tandjung (417 suara), Ahmad Yohan (343), Herman Khaeron (318), Saan Mustopa (316), M Rifqinizamy Karsayuda (311), Abdullah Puteh (295), Romo HR Muhammad Syafii (290), Zulfiqar Arse Sadikin (224), dan Sutomo (278) dari 38 calon yang terdaftar.

Pemilihan dan penghitungan suara menggunakan sistem “e-voting (electronic vote)”.   

Kesembilan presidium didominasi politisi (8 orang). Memang Politisi berpengalaman dalam “kompitisi bebas” sehingga mudah menyingkirkan birokrat dan akademisi, yang terbiasa “ditunjuk” atau hanya dipilih dalam forum yang terbatas. KAHMI telah “tercatat” dalam sejarah sebagai organisasi yang yang menerapkan “e-voting” setelah Muhammadiyah.

Fenomena dan fakta tersebut merupakan refleksi tema yang diusung Munas ke-11 KAHMI, “Bangkit bersinergi membangun negeri menuju peradaban baru”.

Sebuah peradaban ditandai mantapnya budaya cerdas, rasional, indah, akhlak mulia, sejahtera dan kehidupan harmonis yang dimulai dengan mantapnya budaya literasi (budaya membaca) dan banyaknya literatur (buku) dan inovasi.

Tak salah jika pendidikan dan investasi manusia merupakan faktor penting dan strategis untuk menuju peradaban baru Indonesia yang ditandai juga digitalisasi.

Pentingnya pendidikan guna mencerdaskan kehidupan bangsa ditunjukkan semua negara yang berperadaban di dunia. Pada kolum telah banyak kali diulas tentang pendidikan dan daya saing bangsa yang lemah, termasuk pendidikan dan digital. Pendidikan di Indonesia menurut sebuah jurnal di Inggris (2020), ketinggalan 1.000 tahun dibanding pendidikan di Inggris.

Dekade 1990 Tony Blair yang berkampanye untuk jadi Perdana Menteri Inggris punya program, pertama pendidikan, kedua pendidikan, dan ketiga pendidikan.

Demikian juga Kaisar Hirohito, bertekad mengubah keunggulan militer menjadi keunggulan ilmu melalui pendidikan.

Jepang kini terbukti bisa bersaing dengan negara-negara yang dahulu mengalahkan dan menghancurkannya dalam Perang Dunia II (1945). Negara-negara lain juga mengutamakan pendidikan sebagai faktor penting pembangunan manusia.  

Indeks Pembangunan Manusia Indonesia di posisi ke-124 dari 182 negara. Berada di bawah Vietnam (105). Juga “Indeks Modal Manusia” Indonesia, di peringkat ke-87 (0,53) dari 188 negara. Di bawah rata-rata dunia (0,57). Karenanya “Indonesia hanya bisa menikmati 53 persen dari seluruh potensi ekonomi yang ada” ujar Presiden Bank Dunia, Jim Young Kim di Bali (2018).   

Berdasarkan publikasi IMD World Digital 2018, Indonesia di peringkat ke-62 dari 63 negara, jauh di bawah Singapura (ke-2), dan Malaysia (ke-27).

Tak salah jika dalam ‘Indeks Negara Baik’, Indonesia di bidang IPTEK di posisi ke-160 dari 163 negara, kalah dari Timur Leste. Hingga kini APK pendidikan tinggi juga masih 31,5 % . Tak ada juga perguruan tinggi kita masuk 50 terbaik ASIA.

Rendahnya “modal manusia” sebagai refleksi lemahnya investasi manusia, telah berakibat buruk pada lemahnya daya saing kita dalam semua sektor termasuk sektor digital. Digitalisasi perlu mendapat perhatian serius menuju terwujudnya peradaban baru Indonesia dalam masyarakat yang adil makmur dan diridhai Tuhan yang Maha Esa.

Jakarta, 1 Desember 2022

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved