Teropong
Benarkah?
Orang tidak taat hukum karena sistem yang ada tidak membuat orang segan bahkan takut melakukan pelanggaran hukum.
Informasinya sendiri salah, tetapi orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi itu benar.
Tujuannya baik, tidak untuk membahayakan orang lain.
Sedangkan dalam istilah disinformasi, penyebar informasi tahu kalau informasi itu memang salah.
Namun sengaja disebarkan untuk menipu, mengancam, bahkan membahayakan pihak lain.
Kemudian malinformasi, sebetulnya benar.
Namun informasi itu digunakan untuk mengancam keberadaan seseorang atau kelompok dengan identitas tertentu.
Apa yang terjadi dengan dis/mis/malinformasi sudah biasa dimainkan oleh orang-orang tertentu.
Orang-orang atau kelompok ini mungkin saja berkolaborasi dengan pihak-pihak tertentu untuk menghancurkan pihak lain yang dianggap lawannya.
Boleh jadi orang yang menyampaikan informasi itu yang benar, namun ditanggapi dengan cara lain.
Terjadi perang informasi yang ujung-ujungnya membingungkan dan meresahkan masyarakat.
Pernyataan para elite kita dalam berbagai posisi terkadang bermuatan informasi yang ‘asal bunyi’.
Pernyataannya terdengar, tercium dan terlihat benar, namun penerapannya ternyata salah sekaligus bohong.
Kebohongan ini sudah menular ke berbagai level.
Penular dan tertular sama-sama bekerja untuk menutupi kebohongan yang ada.
Sebagai misal Lembaga Peradilan kita mulai ‘terular’ permainan busuk dari oknumnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-gafar-1-11102021.jpg)