Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Belajar dari Katto-Katto

Anak-anak yang sebelumnya banyak mengurung diri di kamar bersama dengan gawainya, kini mulai keluar rumah untuk bermain katto-katto.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/arlin
Arlin Awarde Beasiswa Pendidikan Indonesia sekaligus Seorang Guru di Kota Parepare. Arlin merupakan penulis Opini Tribun Timur berjudul Belajar dari Katto-Katto. 

Selain itu, pemainan yang berasal dari Amerika Serikat itu juga secara tidak langsung mengubah persepsi anak-anak berkaitan dengan kehidupan.

Meski hal itu terdengar terlalu melebih-lebihkan, tetapi sangat mungkin untuk terjadi.

Jika pesatnya perkembangan teknologi menimbulkan persepsi di anak-anak bahwa definisi dari kemajuan dan komoderenan adalah bermain game online, maka katto-katto adalah antitesanya.

Meski bukan permainan online dan merupakan permainan yang jadul, tetapi pada kenyataannya bisa menjadi “virus” permainan yang fenomenal.

Lihatlah hari ini, hampir di seluruh penjuru Sulawesi Selatan, kita bisa mendengar bunyi “klak…klak…klak…” yang dimainkan dengan riang gembira.

Hal itu bisa menjadi bukti bahwa pemainan selain game online sebenarnya bisa kembali digiatkan jika mendapatkan momentum yang tepat.

Seperti yang kita ketahui bahwa ada ratusan jenis permainan tradisional di Indonesia, dan sangat mungkin untuk tren kembali jika mendapatkan momen yang tepat seperti katto-katto.

Pada titik inilah, orang tua dan praktisi pendidikan mestinya “menggugat” publik figur agar ke depan bisa memunculkan tren yang mengangkat permainan tradisional.

Meski kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang harus kita terima agar tetap bisa relevan dengan zaman, tetapi kita juga mestinya peduli terhadap kelestarian permainan tradisional.

Kita butuh pesohor untuk menularkan demam permainan tradisional secara masif, baik melalui TikTok, Istagram, YouTube, dan platform lainnya.

Kita butuh tindakan yang presisi, bukan sesuatu yang bersifat seremonial semata agar dianggap peduli terhadap kebudayaan.

Maka dari itu, mari kita mulai dari permainan katto-katto.

Bagi orang tua dan saudara-saudaraku, jika anak-anak kalian merengek untuk dibelikan katto-katto, -- selama itu tidak memberatkan--, belikan!

Dorong mereka kembali ke luar rumah untuk bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya.

Sebab kata teoretikus budaya asal Belanda, Johan Huizinga, sejatinya manusia adalah Homo Ludens “manusia yang senang bermain”, dan “all play means something”.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved