Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Belajar dari Katto-Katto

Anak-anak yang sebelumnya banyak mengurung diri di kamar bersama dengan gawainya, kini mulai keluar rumah untuk bermain katto-katto.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/arlin
Arlin Awarde Beasiswa Pendidikan Indonesia sekaligus Seorang Guru di Kota Parepare. Arlin merupakan penulis Opini Tribun Timur berjudul Belajar dari Katto-Katto. 

Oleh:

Arlin
Awarde Beasiswa Pendidikan Indonesia sekaligus Seorang Guru di Kota Parepare

TRIBUN-TIMUR.COM - Di zaman disruptif ini, selalu saja ada fenomena yang tak terduga.

Salah satu fenomena tersebut adalah merebaknya demam katto-katto di masyarakat Sulawesi Selatan, terutama di kalangan anak-anak.

Permainan yang memerlukan keterampilan dan kelincahan tangan itu kembali merebak setelah sempat tren lebih dari dua dekade yang lalu.

Mencuatnya kembali katto-katto dianggap banyak orang sebagai fenoma biasa, sebagaimana layaknya fenomena lain seperti, telolet om atau uangkapan “kamu nanyea?”.

Sesuatu yang fenomenal tetapi hanya dalam kurun waktu tertentu -- tidak bertahan lama dan akan tergantikan oleh fenomena lain.

Anggapan itu tentu ada benarnya, tetapi kita bisa melihat sisi lain pada fenomena katto-katto ini.

Di tengah kegandrungan anak-anak pada game online yang disertai dengan keresahan banyak orang tua, katto-katto hadir sebagai pembeda.

Melalui katto-katto, ada banyak anak yang secara tidak langsung mengubah gaya interaksi dan persepsi kehidupannya.

Saat bermain game online, anak-anak cenderung lebih emosional dan bahkan sangat fasih mengucapkan umpatan-umpatan.

Hal ini dikarenakan, bermain game online – meminjam teori Yasraf Amir Piliang -- bisa membuat anak-anak membentuk identitas berbeda dan merasakan keberjarakan.

Identitas asli di dunia nyata adalah Muhammad Bilal, tetapi di dunia game ia bisa menamai dirinya The Angel dengan foto anime bersayap.

Ia kemudian dengan leluasa mengucap apapun, sebab bagi dia, yang berbicara adalah The Angel, bukan Muhammad Bilal.

Selain persoalan identitas, ada juga ada juga disebut keberjarakan.

Anak-anak yang bermain game bisa berhadapan dengan anak dari daerah atau belahan dunia manapun.

Dan ruang virtual selalu menciptakan jarak, bukan hanya jarak tubuh, tetapi juga perasaan.

Mari berkaca ke diri kita sendiri sebagai orang dewasa.

Kita akan lebih mudah untuk mengumpat orang yang jauh, ketimbang dengan orang yang bertatap muka dengan kita.

Demikian juga dengan anak-anak, karena merasa berjarak, tidak ada kenanan untuk mengumpat.

Tidak hanya berakhir pada persoalan identitas dan keberjarakan, ada banyak hal lain yang menjadi kekhawatiran orang tua terkait dengan kecanduan game online.

Mulai dari sikap asosial, kesehatan mata, lemah fisik, hingga persoalan mental.

Hal ini kemudian “dijungkirbalikkan” oleh permainan katto-katto.

Permainan katto-katto membuat anak-anak lebih aktif dan interaktif.

Anak-anak yang sebelumnya banyak mengurung diri di kamar bersama dengan gawainya, kini mulai keluar rumah untuk bermain katto-katto.

Ia ingin memperlihatkan kepada orang lain bahwa ia punya dan bisa memainkannya.

Berkat katto-katto, interaksi sesama anak-anak hingga ke orang tua juga semakin intens.

Mereka berkumpul, berbicara, dan saling memamerkan skil dalam memainkan katto-katto.

Hal ini membuat mereka secara tidak sadar menemukan “kehidupan” yang lebih nyata.

Emosi mereka juga cenderung lebih terkontrol sebab mereka saling berjumpa -- meminjam istilah Emanuel Levinas, mereka berinteraksi dengan wajah.

Selain itu, pemainan yang berasal dari Amerika Serikat itu juga secara tidak langsung mengubah persepsi anak-anak berkaitan dengan kehidupan.

Meski hal itu terdengar terlalu melebih-lebihkan, tetapi sangat mungkin untuk terjadi.

Jika pesatnya perkembangan teknologi menimbulkan persepsi di anak-anak bahwa definisi dari kemajuan dan komoderenan adalah bermain game online, maka katto-katto adalah antitesanya.

Meski bukan permainan online dan merupakan permainan yang jadul, tetapi pada kenyataannya bisa menjadi “virus” permainan yang fenomenal.

Lihatlah hari ini, hampir di seluruh penjuru Sulawesi Selatan, kita bisa mendengar bunyi “klak…klak…klak…” yang dimainkan dengan riang gembira.

Hal itu bisa menjadi bukti bahwa pemainan selain game online sebenarnya bisa kembali digiatkan jika mendapatkan momentum yang tepat.

Seperti yang kita ketahui bahwa ada ratusan jenis permainan tradisional di Indonesia, dan sangat mungkin untuk tren kembali jika mendapatkan momen yang tepat seperti katto-katto.

Pada titik inilah, orang tua dan praktisi pendidikan mestinya “menggugat” publik figur agar ke depan bisa memunculkan tren yang mengangkat permainan tradisional.

Meski kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang harus kita terima agar tetap bisa relevan dengan zaman, tetapi kita juga mestinya peduli terhadap kelestarian permainan tradisional.

Kita butuh pesohor untuk menularkan demam permainan tradisional secara masif, baik melalui TikTok, Istagram, YouTube, dan platform lainnya.

Kita butuh tindakan yang presisi, bukan sesuatu yang bersifat seremonial semata agar dianggap peduli terhadap kebudayaan.

Maka dari itu, mari kita mulai dari permainan katto-katto.

Bagi orang tua dan saudara-saudaraku, jika anak-anak kalian merengek untuk dibelikan katto-katto, -- selama itu tidak memberatkan--, belikan!

Dorong mereka kembali ke luar rumah untuk bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya.

Sebab kata teoretikus budaya asal Belanda, Johan Huizinga, sejatinya manusia adalah Homo Ludens “manusia yang senang bermain”, dan “all play means something”.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved