Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Pemuda ‘Latah Digital’ dan Smart City

Sungguh Smart City bukan hanya sebatas berapa banyak titik CCTV yang dimiliki atau seberapa besar dan canggih command center.

Editor: Hasriyani Latif
Syamsu Alam
Syamsu Alam Dosen FEB UNM/Ketua Masika ICMI Makassar 

Jadi jika disimpulkan berdasarkan dua pandangan tokoh di atas Gie dan Henry Ford Tugas utama ‘kaum muda’ adalah belajar dan ‘memberantas generasi tua yang mengacau’. Nah, ukuran belajar dan membarantas itu apa?

Belajar Sepanjang Masa

Berdasarkan data sejarah Peran pemuda begitu vital dalam proses menuju Indonesia merdeka. Pemuda memegang peran penting dalam masa perjuangan melawan penjajahan, baik melalui perlawanan fisik juga perlawanan diplomatik.

Kebangkitan pemuda berawal sejak mereka mulai berorganisasi pada era kebangkitan nasional pada 1908.

Buku Indonesia dalam Arus Sejarah (2013) menjelaskan, perubahan radikal yang dilakukan organisasi pemuda mendorong mereka untuk bersatu dan berkumpul dalam satu wadah.

Ada banyak tokoh pemuda yang terlibat dalam upaya perumusan Sumpah Pemuda yang intinya, ikrar pemuda Indonesai tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Pada saat reformasi lahir Sumpah Mahasiswa Indonesia yang berbunyi:

"Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, bertanah air satu tanah air tanpa penindasan.", "Kami mahasiswa bersumpah, berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan.", "Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan."

Sekilas terjadi perubahan ‘slogan’. Karena bagi pemuda (mahasiswa), aktor penjajah bukan hanya bangsa lain, tetapi bangsa sendiri. Berarti lumayan ada proses belajar.

Benarlah apa yang dikemukakan Richard Gross (Psikolog) Learning is the process of acquiring new understanding, knowledge, behaviours, skills, values, attitudes, and preferences.

Singkat cerita, belajar semestinya ada proses internalisasi dan eksternalisasi. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw sebelum berdakwah terbuka di usia 40-an, terlebih dahulu ada proses internalisasi ‘karakter’ yang panjang.

Dromologi Smart City

Bukan sebagaimana yang lazim kita lihat di era saat ini yang mengedepankan prinsip ‘Dromologi’. Prinsip yang mengutamakan kecepatan. Siapa yang tercepat dan terdepan ialah yang terkuat, manusia tidak boleh diam.

Semua orang ‘dipaksa’ untuk menjadi yang tercepat. Tercepat mengadopsi teknologi, tercepat mengadopsi ‘metaverse’ dan tercepat dalam segala hal yang bisa dipamer. Seolah-olah hidup adalah perlombaan.

Kerap kita merasa terbelakang jika tidak ‘update; dengan istilah-istilah baru, tren baru, gosip terbaru, dan lain-lain.

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved