Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Krisis Kapitalisme Global

Krisis itu bisa menimpa dampaknya, Kita perlu bersiap-siap, apalagi ada sekitar 90 persen tenaga kerja kita berkerja di UMKM.

INFOGRAFIS TRIBUN TIMUR
Anwar Arifin AndiPate 

Oleh: Anwar Arifin AndiPate
Guru Besar Ilmu Komunikasi

TRIBUN-TIMUR.COM - Hingga kemarin video pidato Presiden Joko Widodo, tentang terjadinya krisi ekonomi di negara-negra Barat. yang kaplitalistis akibat Pandemi Cavid-19 yang berlanjut terjadinya Perang Ukrania-Rusia. Indonesia harus waspada.

Krisis itu bisa menimpa dampaknya, Kita perlu bersiap-siap, apalagi ada sekitar 90 persen tenaga kerja kita berkerja di UMKM.

Sejak persiapan kemerdekaan, Soekarno, Hatta, dan para pendiri republik telah memprkirakan kapitalisme yang telah melahirkan penjajahan diabad ke-19 hingga awal abad ke-20, akan mengalami krisis.

Itulah sebabnnya para pendiri bangsa menyepakati pentingnya demokrasi ekonomi disamping demokrasi politik, seperti termuat dalam UUD 1945.

Perkiraan itu telah terasa diabad ke-21 ini. Kapitalisme global yang telah membuat rakyat Indonesia amat menderita, kini sedang dilanda krisis di negara-negara kapitalis (Eropa Barat dan AS).

Sejak akhir abad ke-20. kepercayaan dunia terhadap kapitalisme merosot drastis sejalan merosotnya krisis kepercayaan terhadap demokrasi global.

Bahkan George Soros (1998) praktisi pasar uang, telah meluncurkan buku karyanya, berjudul, “Krisis Kapitalisme Global” yang intinya berisi temuan yang menarik kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi global, telah mengalami krisis parah karena munculnya masyarakat terbuka yang mengnam kapitalisme.

Soros menyimpulkan telah terjadi fragmentasi produksi dan ketidakstabilan perkembangan ekonomi yang ditandai tertelannya industri-ndustri kecil oleh kapitalis dalam suatu persaingan saling menghancurkan.

Filsuf Jerman, Herbert Marcus (2012) menulis, bahwa kapitalisme global harus “diganyang” dan masyarakat kapitalis harus dilampaui, agar terjadi fajar baru kemanusiaan dan kebersamaan.

Ekonomi dan demokrasi global telah mengalami anomali, dan tidak lagi fungsional, dalam menciptakan kesejahteraan dan keadilan, terutama semakin tajamnya ‘ketimpangan’ sosial.

Kekayaan telah menumpuk pada sekelompok kecil kapitalis yang semakin melahirkan superkapitalis yang tampil menundukkan demokrasi, melalui budaya konsumeristis dan membenturkannya dengan demokrasi.

Akhirnya kapitalis memakan dirinya sendiri dan meninggalkan demokrasi dalam bahaya.

Peran rakyat dalam demokrasi semakin terpinggirkan akibat berkembangnya ‘totalitarian bari’, yaitu ‘totalitarianisme konsumen’ yang mereduksi kemerdekaan manusia melalui impratif pasar.

Bahkan demokrasi, telah dibajak para ’petualang, bandar, dan bandit politik’.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved