Opini Syamril

Opini Syamril: Memahami Tanda-tanda

Seorang karyawan alat-alat laboratorium dengan bangga pulang ke kampungnya. Dia membawa oleh-oleh untuk sahabat karibnya di masa sekolah.

Opini Syamril: Memahami Tanda-tanda
Syamri
Syamril, Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Kalla

Oleh:Syamril
Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Kalla

TRIBUN-TIMUR.COM - Seorang karyawan alat-alat laboratorium dengan bangga pulang ke kampungnya. Dia membawa oleh-oleh untuk sahabat karibnya di masa sekolah. Apa oleh-olehnya? mikroskop.

Ditunjukkannya kehebatan mikroskop yang bisa melihat benda kecil bahkan bakteri yang ada di dalam air. Sahabatnya pun kagum dan takjub. Hadiah itu diterima dengan senang hati.

Temannya dengan bangga memperlihatkan kehebatan mikroskopnya ke orang-orang kampung. Diambilnya daun, kain, dan berbagai barang lain dan diperlihatkannya di bawah mikroskop. Orang kampung kagum dan takjub.

Sampai akhirnya suatu hari saat dia di meja makan terlihat sambal yang selalu menjadi menu favoritnya. Dia penasaran untuk mengamati apa gerangan yang ada di dalam sambalnya.

Diperiksanya dengan mikroskop. Alangkah kagetnya saat terlihat di mikroskop sambal favoritnya penuh dengan makhluk sejenis bakteri.

Bagaimana ini? Sambal ini ternyata berbahaya, mengandung kuman penyakit. Tapi mau dibuang atau berhenti makan sambal juga rasanya tidak mungkin karena sudah menjadi kebiasaan dan nikmat rasanya.

Akhirnya dia kecewa dengan mikroskopnya. Dia memutuskan membuang mikroskop itu. Gara gara mikroskop ini dia jadi takut dan khawatir makan sambal.

Cerita di atas mungkin menggambarkan diri kita yang gagal memahami tanda-tanda. Kata pepatah "buruk wajah cermin dibelah". Tanda-tanda tersebut dapat dilihat pada kehidupan pribadi, keluarga, tempat kerja, masyarakat dan negara.

Dalam kehidupan pribadi tanda itu bisa berupa nasehat atau petuah agama. Kita tidak terima karena mengganggu kebiasaan kita yang salah.

Kita sadar bahwa nasehat itu benar. Tapi hawa nafsu kita menolaknya. Akhirnya orang yang memberi nasehat kita benci dan musuhi. Kita pun mencari pembenaran untuk menolak kebenaran.

Bisa juga tanda itu berupa keadaan fisik kita yang tidak nyaman. Mulai terasa kurang fit. Tanda kita harus istirahat. Bisa juga tanda itu meminta kita untuk diet atau olahraga. Tapi kita abaikan. Akibatnya sakit melanda dan barulah kita menyesal.

Dalam kehidupan keluarga kita perlu peka melihat tanda-tanda. Periksa hubungan antara suami dan istri. Apakah masih hangat dan ada rasa cinta atau sudah datar-datar saja? Juga lihat perilaku anak-anak kita.

Apakah ada perubahan yang aneh? Itu semua perlu dianalisa dan diperbaiki jika cinta mulai hilang dan anak butuh perhatian.

Tanda-tanda di tempat kerja juga perlu dicermati. Apakah karyawan masih siap bekerja keras dengan senang hati atau semua serba hitung-hitungan? Apakah hubungan antar karyawan masih saling support atau saling menjatuhkan? Cermati, analisa dan ambil langkah perbaikan.

Sampai akhirnya juga pahami tanda-tanda dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kasus Ferdy Sambo, korupsi pejabat, mafia judi, miras dan narkoba, mafia peradilan dan lain sebagainya. Pemerintah harus mampu memahami tanda-tanda tersebut. Apakah negara ini baik-baik saja atau ada masalah besar?

Pada saat ini kembali marak demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya terkait kenaikan harga BBM. Pemerintah harus mendengarkan aspirasi mereka. Pahami apakah ini masalah yang kecil atau besar.

Jika masalah besar jangan dianggap sepele karena dapat menimbulkan masalah lain yang lebih besar lagi. Mari peka dan pahami tanda-tanda.(*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved