Opini Dian Safitri
Gen Z Bisa Apa?
Terlalu berambisi, suka hal yang instan, malas, suka membandingkan, suka mengkritik, kebanyakan healing, generasi manja.
Oleh: Dian Safitri
Mahasiswa Politeknik STIA LAN Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Terlalu berambisi, suka hal yang instan, malas, suka membandingkan, suka mengkritik, kebanyakan healing, generasi manja.
Begitulah generasi tua memandang generasi muda yang lahir di tengah perkembangan teknologi yang dikenal sebagai Gen Z.
Dikarenakan generasi ini lahir di tengah perkembangan teknologi membuat mereka sangat akrab dengan internet terlebih lagi media sosial yang membuat mereka agak berbeda dari generasi sebelumnya dan dianggap sebagai generasi yang hidupnya berada dalam dunia maya, hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengakses media sosial.
Ditambah lagi keberadaan teknologi yang menjadikan semuanya serba instan yang kemudian membuat mereka dicap sebagai generasi malas.
Generasi yang lahir di antara tahun 1995 sampai dengan tahun 2010 ini cenderung dianggap anti sosial. Disamping itu, generasi ini sangat up to date yang tidak jarang meluangkan waktu untuk berkomentar terhadap isu-isu yang berkembang di media sosial dan sangat menyukai kebebasan sehingga dianggap generasi minim batas.
Selain itu, Gen Z suka membagikan cerita ataupun keseharian di akun media sosial mereka. Bahkan, media sosial dijadikan sebagai tempat berkeluh kesah.
Terlebih lagi kebiasaan Gen Z yang suka memposting hal-hal yang berbau mental health dan suka liburan atau istilahnya healing sebagai bentuk self-reward membuat mereka dianggap generasi manja dan lemah.
Akan tetapi, saya rasa hidup di zaman digital saat ini masyarakat sudah tidak asing lagi dengan teknologi juga keberadaan media sosial.
Tidak hanya remaja bahkan orang tua hingga anak-anak menjadikan media sosial sebagai sarana komunikasi ataupun sekedar mencari hiburan.
Terlebih lagi media sosial yang bersifat bebas sehingga bisa diakses oleh siapa saja dan membuat penggunanya gampang mendapatkan informasi sekaligus membagikan kegiatan yang sedang mereka lakukan ataupun sebagai tempat berkeluh kesah.
Serta, penggunaan media sosial membuat siapa saja bebas berekspresi termasuk berkomentar terhadap isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Demikian juga, persoalaan Gen Z yang suka hal-hal yang instan bukankah itu sebuah hal yang wajar?
Karena keberadaan teknologi yang dapat mempermudah segala pekerjaan ataupun mengakses segalanya dengan mudah, bukankah hal ini patut kita syukuri?
Mengingat perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari diikuti dengan perbedaan pola pikir setiap generasi.
Oleh karena itu, pola pikir Gen Z agak berbeda dengan generasi sebelumnya.
Menurut hemat saya, Gen Z bukanlah generasi malas melainkan kemudahan akses yang dimiliki membuat kaum Gen Z lebih memilih kerja cerdas dibanding kerja keras.
Mereka lebih senang menggunakan teknologi seperti media sosial untuk menciptakan kreativitas seperti menjadi content creator yang dapat menghasilkan uang dengan mudah hanya bermodalkan telepon genggam, ataupun melakukan aktivitas seperti berbelanja dan berjualan online.
Selain itu, Gen Z lebih mampu terbuka akan perbedaan setiap individu. Sikap terbuka yang dimiliki Gen Z membuat mereka menjadi lebih peka terhadap kondisi lingkungan dan lebih berani berpendapat.
Mereka mencintai kebebasan dan dianggap generasi minim batas, itu karena usia kaum Gen Z saat ini terbilang usia muda sedang gencarnya mengeksplorasi berbagai hal.
Ditambah populasinya yang mendominasi, tidak heran media sosial saat ini dikuasai oleh Gen Z.
Kebanyakan dari mereka menggunakan media sosial sebagai media kampanye terhadap pola pikir kuno yang salah dan dinormalisasikan oleh masyarakat untuk diubah ke arah yang lebih baik.
Selanjutnya, Gen Z yang suka membahas mental health bukan berarti mereka generasi yang lemah.
Akan tetapi, mereka menyadari akan pentingnya kesehatan mental bagi kelangsungan hidup. Saya pun merasa kesehatan mental yang baik akan meningkatkan produktivitas dalam bekerja.
Gen Z menyelamatkan banyak kebahagiaan dan lebih toleran terhadap perbedaan.
Beberapa yang telah dilakukan Gen Z, seperti kampanye feminisme Gen Z berhasil menyadarkan banyak perempuan tentang hak dan perannya. Kampanye standar kecantikan dan anti body shaming, Gen Z berhasil meningkatkan kepercayaan diri setiap individu. Dan tidak terkecuali kampanye lingkungan hidup hingga politik dan masih banyak lagi.
Tidak hanya itu, kemampuan berpikir kritis yang dimiliki diikuti pula dengan kemampuan intelektual yang tinggi menjadikan Gen Z lebih ambisius dalam berkarir. Tidak sedikit dari Gen Z sudah memulai investasi dan membangun personal branding sedini mungkin yang membuat Gen Z mencapai kesuksesannya di usia muda.
Potensi-potensi keren Gen Z kadang tertutup oleh penilaian-penilaian buruk dari generasi sebelumnya. Generasi ini lahir dan besar di dunia digital serta tumbuh dengan teknologi sehingga mereka dituntut untuk serba cepat dan tentunya memiliki kekuatan yang harus diperhitungkan, mereka tidak takut mencoba hal-hal baru terlepas dari risiko yang ada.
Gen Z merupakan generasi yang progresif, mereka berusaha merancang masa depan yang lebih baik.
Gen Z memanfaatkan teknologi melalui media sosial dengan mengangkat berbagai permasalahan untuk terus dibahas yang kemudian telah berdampak dan membawa perubahan yang lebih baik.
Gen Z lebih mengimbau masyarakat untuk lebih reseptif, apresiatif dan kritis terhadap lingkungan, terlepas dari cara pikirnya yang memang bebas tanpa batas.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/logo-tribun-timur-1-2102021.jpg)