Kasus Karang Merah

Aliansi Kawan Laut Desak Penetapan Tersangka Kasus 324 Koli Karang Merah yang Ditangkap

Menurut Ramli, penetapan tersangka saat ini sangat penting untuk mengetahui pemilik dari 324 koli karang merah ini. 

Penulis: Desi T Aswan | Editor: Saldy Irawan
Dokumen Pribadi
Ketua AMPIBI yang tergabung dalam Aliansi Kawan Laut, Muhammad Ramli angkat suara terkait kasus 324 karang merah yang diamankan tak kunjung diketahui pemiliknya. 

TRIBUN-TIMUR.COM- Aliansi Kawan Laut mendesak ditetapkannya tersangka atas kasus penyelundupan karang merah yang ditangkap sejak 28 Juli 2022 oleh Lantamal VI Makassar.

Aliansi Kawan Laut ini merupakan gabungan dari beberapa Organisasi giat Pelestarian Lingkungan Laut, mulai dari Himalaya-Kabupaten Pangkep, Aliansi Masyarakat Peduli Bahari Indonesia (AMPIBI), Pokmaswas Barracuda, Pokmaswas AMPIBI, Perahu Terasa Mangrove, Jaringan Kemanusiaan dan Sampanta.

Meski sudah dilimpahkan kasus ini ke Kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan, namun penetapan tersangka atau pemilih dari 324 Koli karang merah yang diamankan tak kunjung diungkap ke publik. 

"Tanpa tersangka dan sampai hari ini juga belum ada tersangka," tutur Ketua AMPIBI, Muhammad Ramli kepada Tribun Timur, Senin (8/8/2022). 

Menurut Ramli, penetapan tersangka saat ini sangat penting untuk mengetahui pemilik dari 324 koli karang merah ini. 

Ramli juga mengungkapkan sangat penting penetapan tersangka ini dilakukan untuk menjadi efek jera pelaku dan edukasi pada masyarakat. 

Terlebih, menurutnya, karang merah ini adalah pondasi laut, yang spesiesnya hampir punah karena aktifitas penambangan liar oleh oknum, bahkan riset menyatakan bahwa 50 persen habitatnya hilang dari 10 tahun terakhir.

Ia berharap kasus ini segera ditangani dengan profesional dan menemukan tersangka pemilik karang merah yang disita itu. 

"Kami juga berharap agar barang bukti karang merah di kembalikan ke habitatnya," jelasnya. 

Tak hanya itu, Ramli menegaskan penegak hukum harus mampu bekerja secara maksimal dengan orientasi penyelamatan lingkungan dan ruang hidup masyarakat nelayan. 

"Karena laut adalah satu satunya tempat hidup masyarakat pulau," tuturnya. 

Selain itu, pemerintah setempat diharapkan pula mampu mendukung penuh gerakan penyelamatan lingkungan khususnya di kecamatan Liukang Tangaya, Kepulauan Pangkajene, Sulsel dengan gerak cepat menetapkan wilayah tersebut sebagai daerah konservasi yang telah digagas sejak 2019. 

Segala upaya telah dilakukan Aliansi Kawan Laut untuk bisa mengungkap siapa dalang di balik pemilik karang merah tersebut. Mulai dari kampanye via media sosial, komunikasi persuasif ke Lantamal VI Makassa dan BKSDA Sulsel, namun tak kunjung menemukan hasil. 

Juga pembuatan petisi yang disebar linknya dan telah ditandatangani 872 orang dengan target 1.000 orang.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved