Opini Sri Wahyu Nengsih
Fenomena Citayam Fashion Week: Haus Perhatian?
fenomena Citayam Fashion Week yang menarik berbagai macam kalangan dari masyarakat biasa, selebritis hingga politisi.
Oleh: Sri Wahyu Nengsih
Mahasiswi Psikologi UNM dan Sekretaris Umum FLP Ranting UNM Periode 2022-2023
TRIBUN-TIMUR.COM - Baru baru ini ramai diperbincangkan fenomena Citayam Fashion Week yang menarik berbagai macam kalangan dari masyarakat biasa, selebritis hingga politisi.
Citayam Fashion Week ini merupakan tren street fashion yang dilakukan oleh anak-anak remaja asal Citayam, Bogor, dan Depok di kawasan Sudirman, sebuah kawasan perkantoran elit di Jakarta, yang juga banyak diikuti kota kota lain termasuk Makassar.
Fenomena ini sendiri diawali oleh anak-anak remaja yang hanya nongkrong santai di stasiun Dukuh Atas. Kegiatan mereka pun hanya berkumpul di sekitar trotoar dan berfoto ria.
Para remaja ini senang ke lokasi tersebut lantaran Sudirman menjadi lokasi di Jakarta yang memiliki pemandangan layaknya kota-kota di luar negeri seperti Jerman, Prancis, Italia dan Jepang hingga dijuluki sebagai Harajuku-nya Indonesia.
Baca juga: Citayam Fashion Week: Ekspresi Kaum Rudin dan Upaya Penyingkirannya
Selain itu tempat ini memang dikenal ramah pejalan kaki, asri dan sejuk karena banyak ditumbuhi pepohonan sehingga cocok sekali menjadi tempat ajang pamer gaya fesyen.
Namun, viralnya sebuah video wawancara antara Bonge, Jeje, dan Kurma di jagat maya juga menjadi salah satu pemicu semakin ramainya kawasan tersebut. Bukan hanya itu, video-video yang viral itu juga menunjukkan gaya pakaian mereka yang nyentrik.
Citayam Fashion Week dimulai ketika para ABG asal Citayam, Bojong Gede, dan Depok itu mulai menjadikan kawasan Sudirman menjadi ajang pamer fesyen.
Layaknya model, anak-anak remaja itu menggelar fashion show dengan melakukan catwalk di atas zebra cross. Fenomena ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat karena dibahas di berbagai bidang yang tentunya memiliki ‘kacamata’nya masing-masing dalam melihat fenomena ini.
Jika dilihat dari sisi psikologi hal ini menjadi cukup normal karena sifat remaja yang selalu merasa perlu diperhatikan. Rosalina Verauli seorang Psikolog Klinis keluarga dan anak mengatakan bahwa remaja senantiasa menghayati dirinya berada dalam spotlight.
Seolah, dirinya adalah pusat dari dunia terkait cara berpikir yang cenderung egosentris. Mbak Vera sapaan akrab beliau juga mengatakan bahwa hal ini normal untuk remaja meskipun sebetulnya merupakan hasil distorsi kognitif.
Pencarian Jati Diri
Masa remaja merupakan masa di mana manusia sedang dalam pencarian jati diri, fase yang ingin mengenal siapa dirinya sebenarnya. Jati diri atau konsep diri menurut Carl Roger, penemu psikologi aliran humanistik merupakan pengetahuan seseorang tentang siapa dirinya, baik tentang kepribadian, kemampuan, dan perilaku.
Konsep diri ini berkembang sejak awal masa kanak-kanak hingga akhir hayat namun berkembang lebih intens pada masa remaja karena pada masa remaja lah seseorang mencoba berbagai macam karakter dan peran.
Konsep diri sendiri terbagi menjadi tiga hal yaitu, self image pendapat remaja mengenai dirinya, self esteem cara remaja menghargai dirinya dibandingkan dengan orang lain, dan ideal self sosok ideal yang remaja ingin capai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/logo-tribun-timur-1-2102021.jpg)