Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Marsuki

Sulsel Memitigasi Krisis Global

Tercermin dari kenaikan harga dari beberapa komoditas dunia utama, energi dan pangan secara ekspansif.

Tayang:
Editor: Sukmawati Ibrahim
DOK PRIBADI
Guru Besar FEB Unhas Unhas. Penulis opini Sulsel Memitigasi Krisis Global di Tribun Timur edisi Kamis (30/6/2022). 

Oleh: Marsuki
Guru Besar FEB Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Tidak dapat dibantah rupanya harapan akan mulai membaiknya trend perkembangan ekonomi secara umum diperkirakan sulit akan terujud berdasarkan berbagai perkiraan dari lembaga-lembaga internasional, para pengamat dan bahkan Menteri Keuangan RI sendiri.

Ini mengindikasikan bahwa tampaknya bahwa kekhawatiran akan terjadinya krisis global mungkin bisa diterima.

Oleh karena itu maka mau tidak mau para pihak strategis, khususnya otoritas-otoritas terkait, terutama Pemda dalam skala daerah perlu mengantisipasi, berbenah, dan menyiapkan strategi-strategi jitu untuk memitigasinya.

Dalam skala Sulsel misalnya, awalnya memang diperkirakan trend perekonomian Sulsel mulai trimulan II hingga akhir tahun ini terus akan membaik.

Seperti ditunjukkan oleh trend perkembangan beberapa indikator perekonomian yang menuju perbaikan, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi yang relatif terkendali, dan terus bergeraknya beberapa sektor produktif perekonomian sektor riel, khususnya sektor Pertanian dalam arti luas, termasuk trend positif persn sektor keuangan, perbankan khususnya.

Tapi dengan beberapa kejadian geopolitik global yang kurang kondunsif karena dipicu perang Rusia-Ukrania, maka telah mengakibatkan beberapa persoalan ekonomi di berbagai negara, dimulai justru di negara-negara maju.

Tercermin dari kenaikan harga dari beberapa komoditas dunia utama, energi dan pangan secara ekspansif.

Seperti minyak mentah (Brent), Batu bara, Crude palm oil, Gas bumi, Jagung, Gandum, dan Kedelai. Kemudian merembet dampak negatifnya secara ekspansif terhadap sektor ekonomi dan bisnis strategis lainnya.

Sehingga kondisi dilematis harus dihadapi karena telah memicu meningkatnya pengangguran serta kesulitan kehiduoan sosial masyarakat kebanyakan di berbagai negara yang terdampak.

Segera di berbagai negeri kebijakan-kebijakan diambil para otoritas strategi terkait, Fiskal, Moneter, dan sektoral.

Diharapkan hasilnya sekurangnya dapat memitigasi dampak krisis agar tidak akan lebih berat lagi, tapi hasil pastinya belum dapat diperkirakan.

Khusus di tingkat daerah termasuk Sulsel, tampaknya justru masalalahnya bisa disebabkan karena arah kebijakan para pelaku ekonomi yang belum secara nyata dan sungguh-sungguh siap menghadapi kemungkinan krisis tersebut.

Ini dimungkinkan karena anggapan bahwa dengan pengalaman dari krisis-krisis sebelumnya, mereka percaya bahwa Sulsel akan selalu dapat terhindar dari kesulitan akibat krisis.

Tapi faktanya, patut diakui bahwa sesuai data yang ada sebenarnya dari setiap krisis, Sulsel tetap mengalami dampak negatifnya, walaupun mungkin memang tidak terlalu berat dibanding dengan wilayah lain di Indonesia.

Sehingga optimisme yang berlebihan sebaiknya tidak dilakukan, karena lebih baik bersikap konservatif menghadapi kemungkinan krisis global ini sedini mungkin, agar jangan sampai terjadi kasus "nasi sudah jadi bubur", baru mengambil sikap atau keputusan.

Karena hal tersebut jelas akan terlambat dan biaya untuk mengatasinya akan lebih berat, dimana korban akibat krisis sudah banyak.

Oleh karena itu maka para pelaku ekonomi, terutama mulai dari pemerintah dari berbagai tingkatan, terutama perlu melakukan efisiensi dalam memanfaatkan anggaran pembangunan apalagi keterbatasan fiskal sedang dialami.

Kemudian para pengusaha tetap melakukan aktivitasnya sesuai norma-norma bisnis seperti biasanya, jangan berspekulasi. Sedangkan masyarakat umum sebaiknya bertindak rasional, khususnya dalam mengkonsumsi berbagai kebutuhannya.

Namun tentu harapannya, semoga krisis global yang dikhawatirkan dapat berlalu atau jika bisa tidak akan terjadi.

Semoga. Prinsipnya, doa selalu perlu dipanjatkan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved