Opini Yarifai Mappeaty
Sosok Pelintas Batas Generasi
Berbicara tentang sosok Abdul Madjid Sallatu atau lebih dikenal sebagai AM Sallatu, nama penanya, tidak banyak yang bisa saya ceritakan..
Oleh: Yarifai Mappeaty
Penulis Lepas/Alumnus Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sejujurnya, berbicara tentang sosok Abdul Madjid Sallatu atau lebih dikenal sebagai AM Sallatu, nama penanya, tidak banyak yang bisa saya ceritakan.
Sebab selain berbeda generasi dengan Kak Madjid, begitu saya menyapanya, juga hampir tidak pernah ada ruang dan waktu yang memungkinkan bagiku berinteraksi dengannya.
Tetapi meski begitu, saya masih memiliki Amran Razak dan Hermansyah Edy, dua sosok senior yang cukup dekat dengan Kak Madijd, dari sejak masa mahasiswa pada paruh kedua dekade 1970-an.
Keduanya sering bercerita tentang Kak Madjid, baik pada saat masih menjadi aktivis mahasiswa, maupun saat masih menjadi dosen di Universitas Hasanuddin (Unhas), almamaternya.
Dari cerita mereka saya menyimpulkan kalau keduanya diam-diam menyimpan rasa bangga dan kagum terhadap Kak Madjid.
Amran Razak, misalnya, menyebut Kak Madjid sebagai professor tanpa gelar professor.
Tentu tidak ada yang meragukan kepakaran Kak Madjid di bidangnya, yaitu makro ekonomi dan kebijakan publik, sehingga kitapun dapat sepakat dengan Amran Razak.
Lontaran Amran Razak itu, tentu saja tak berlebihan. Bahkan menurutnya, aspek intelektualitas Kak Madjid terjaga dengan baik, lantaran berada di tengah lingkar keluarga pendidik. Pakki Sallatu (alm), kakaknya, adalah dosen senior FE-Unhas. Isterinya (almh), dosen Fakultas Sastra Unhas.
Sedangkan Ashry Sallatu, akrab disapa Gego, putranya, dosen FISIP-Unhas.
Amran Razak tentu tak asal melontar, karena ia pernah menjadi asisten Kak Madjid untuk mata kuliah Ekonomi Internasional di kelas Extensi-Unhas.
Bahkan bukan hanya itu, saat Kak Madjid menjabat Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) Unhas 1976 – 1977, Amran Razak adalah mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi, fakultas yang sama dengan Kak Madjid.
Terang saja tahu banyak soal Kak Madjid, baik sebagai aktifis mahasiswa maupun sebagai intelektual.
Lain lagi dengan Hermansyah Edy yang lebih terkesan pada sifat mengayomi pada diri Kak Madjid. Herman, begitu ia disapa, bercerita bahwa pada saat Kak Madjid diangkat menjadi Pembantu Dekan (PD) III Fakultas Ekonomi Unhas pada 1983, ia mendapat mobil dinas.
Tetapi mobil itu, malah lebih banyak dipakai oleh mahasiswa. Bahkan dipakai belajar menyetir secara bergantian oleh mahasiswa seperti Hidayat Ely, Yunus Zein, dan Sudirman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Yarifai-Mappeaty-123.jpg)