Sawedi Muhammad: Ide Abdul Madjid Sallatu Sangat Brilian
Sawedi mengungkapkan tidak mudah untuk jadi pemantik diskusi diseminasi buku karya Abdul Madjid Sallatu.
Penulis: Ari Maryadi | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sosiolog Universitas Hasanuddin Makassar, Sawedi Muhammad menyampaikan apresiasi atas karya buku Abdul Madjid Sallatu.
Sawedi hadir sebagai pemantik diskusi di hadapan para tokoh, akademisi, politisi.
Diskusi dipandu Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur AS Kambie dan disiarkan langsung di YouTube Tribun Timur, Senin (13/6/2022).
Dalam paparan awalnya, Sawedi mengungkapkan tidak mudah untuk jadi pemantik diskusi diseminasi buku karya Abdul Madjid Sallatu.
Menurutnya tidak mudah membaca pemikiran Madjid.
"Awalnya saya tidak percaya diberi tugas pemantik diskusi oleh Kak Madjid, karena sangat berat tugas ini, karena membaca pikiran beliau butuh konsentrasi luar biasa," katanya.
Pertama, kata Sawedi, tulisan Madjid kombinasi dari berbagai macam paradigmatik keilmuan, khususnya ilmu sosial.
Menurutnya, Madjid, di satu sisi menulis genre paradigma positivistik, ada konteks value pre, ada juga truk kleim. Tapi di sisi lain dalam konteks aksiologi, tulisan beliau masuk kerangka paradigma kritis.
Ada sesuatu ingin diemansipasi, ada sesuatu keganjilan, ada fenomena harus dibela, dan harus ada solusi dari persoalan yang dihadapi.
"Membaca tulisan Kak Madjid tidak mudah dan tidak gambang, punya kontribusi luar biasa. Sebagai pengajar di bidang sosiologi pembangunan, tulisan beliau banyak diilhami pemikiran pembangunan lainnya," katanya.
Sawedi mencontohkan, jika melihat trend global tahun 1970-an, disebut teh club of from, pertama disponsori filantropis dari Italia dan industriawan, yaitu Andre Picei, beserta 35-70 ilmuan ternama dari penjuru dunia
"Ilmuwan independen yang tidak ideologis sifatnya tapi ingin berkontribusi terhadap peradaban manusia tanpa melihat sekat-sekat ideologi, agama kebangsaan dan lainnya," katanya.
"Paradigma ini menarik di tahun 70-an karena mencoba membedah hasil paradigma pembangunan liberalisme bahkan neoliberalisme justru memberi persoalan berat pada populasi kependudukan, termasuk akibat industri timpang, kemiskinan merajalela, ketimpangan sosial di mana-mana," katanya.
Sawedi mengatakan, bahkan di beberapa negara terjadi sosial revolusi akibat kegagalan paradigma pembangunan.
Kedua, ini beririsan dengan apa disebut dalam studi pembangunan pols development, paradigma ditawarkan mencoba melihat keunikan bersifat partikularistik dalam konteks budaya tertentu.