Opini Supratman Supa Athana
Kedatangan PM Australia, Kunjungan Keluarga Terdekat
"Hubungan manusia Bugis Makassar dengan bagian utara Australia sudah dimulai kurang lebih 200 tahun yang lalu. Sekitar abad ke-16,” kata Prof JJ.
Oleh: Supratman Supa Athana PhD
Dosen FIB Unhas/Wakil Sekretaris Bidang Hubungan Internasional PP IKA Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - "Tetangga adalah keluarga terdekat,” kata Prof Jamaluddin Jompa dalam sambutannya menerima kunjungan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, di ruang senat Lantai II Rektorat Unhas, Selasa, ( 7/5/2022).
Australia dan Indonesia memang tetangga akan tetapi khusus Sulawesi Selatan, ada hubungan spesial yang tidak sekedar tetangga tapi juga sudah lama terjalin hubungan historis yang kuat antara Australia dengan Sulawesi Selatan.
Hal itu menjadi sorotan khusus Prof Jamaluddin Jompa saat menyambut rombongan Perdana Menteri Australia yang didampingi beberapa menteri.
“Hubungan manusia Bugis Makassar dengan bagian utara Australia sudah dimulai kurang lebih 200 tahun yang lalu. Sekitar abad ke-16,” papar rektor Unhas ke-13 ini.
Terkait waktu kedatangan orang Makassar pertama di Australia memang ada perbedaan pendapat dikalangan ilmuwan.
Ada yang menyebut, hubungan Makassar dengan Aborigin sekitar abad ke-16. Sekitar 400 tahun yang lalu. Ada juga menyebutkan bahwa orang Makassar sudah mengunjungi pantai utara Australia pada awal mulanya pertengahan 1700-an di wilayah Kimberley, dan beberapa dekade kemudian di Arnhem Land.
Data lain menyebutkan, dalam buku ‘The voyage to Marege: pencari teripang dari Makassar di Australia’(2017) bahwa orang Makassar yang melakukan perjalanan panjang dan menantang gelombang laut untuk mencari hewan laut yang disebut teripang dimulai pada abad ke-18 di sepanjang pantai yang sekarang menjadi Northern Territory, khususnya di Arnhem Territory.
Para pelaut Makassar menamai daerah itu Marege.
Sebelum pemerintah Australia melarang kegiatan tersebut sama sekali pada tahun 1907, setidaknya 1.000 orang bepergian dengan puluhan perahu setiap tahun.
Orang Bugis Makassar yang mengunjungi bagian utara Australia bertujuan mengumpulkan dan mengolah teripang invertebrata laut yang umumnya dihargai di pasar Cina karena nilai kuliner dan khasiat obatnya.
“Istilah Makassan (atau Macassan) dalam bahasa Inggris umumnya digunakan untuk semua pencari teripang yang datang ke Australia,” tandas pakar biologi dan ekologi kelautan ini.
Rektor Unhas juga menyampaikan bahwa kontak orang Bugis Makassar dengan penduduk asli Australia memiliki dampak yang signifikan dalam berbagai bidang; bahasa, budaya, kesehatan, perdagangan bahkan agama.
Hubungan yang saling menguntungkan antara kedua suku bangsa itu diakui oleh Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese.
Menurut dia bahwa hubungan antara orang Makassar dengan masyarakat Australia dalam hubungan yang saling menghormati dan dalam posisi kesederajatan.
Bahkan sejarah hubungan mereka masih dirayakan oleh masyarakat adat di Australia Utara sebagai tanda saling percaya dan menghormati.
Albanese menambahkan bahwa Islam untuk pertama kalinya dibawa oleh orang Macassan ke Australia dan sampai hari ini penganut Islam cukup signifikan.
Ian Mcintosh (2000) mengisyaratkan bahwa aspek-aspek Islam telah diadaptasi secara kreatif oleh penduduk asli Australia yang bermukim di wilayah timur laut Arnhem Land: Yolngo.
Sumber-sumber Muslim masih ada dalam beberapa ritual dan kisah mimpi awal abad ke-21.
Menurut antropolog John Bradley dari Monash University bahwa bila Anda pergi ke utara Arnhem ada jejak Islam dalam lagu, lukisan, tarian, serta ritual pemakaman.
Sangat jelas bahwa ada banyak hal yang telah diadaptasi, termasuk tatkala menggunakan analisis linguistik akan ditemukan semacam puja-puji Tuhan atau setidaknya doa khusus untuk Tuhan.
Ini adalah kunjungan pertama kali perdana Menteri Australia ke Universitas Hasanuddin.
Wajar bila Prof Jamaluddin Jompa sebagai rektor sangat terkesan dan berbahagia dengan kunjungan tersebut.
"Saya seperti bermimpi dengan kehadiran Perdana Menteri Australia di Unhas,"jelasnya.
Ekspresi kebahagian dan kebanggaan Prof Jamaluddin Jompa mendapat kunjungan dari ‘keluarga terdekat’ terasa tatkala ia menyampaikan kebanggaanya sebagai alumni dari salah satu universitas terbaik di Australia: James Cook University.
Bagaimana tidak pengalaman menempuh ilmu pengetahuan di universitas tersebut sangat berpengaruh pada dirinya baik secara intelektual maupun untuk perjalanan dan pengembangan karirnya sebagai akademisi yang kemudian mengantarkannya menjadi rektor Universitas Hasanuddin.
Kebanggaan itu memang selayaknya disampaikan kepada publik dan juga kepada keluarga terdekat yang mengunjunginya itu karena Prof JJ juga mendapat penghargaan sebagai alumni terbaik dari James Cook University pada tahun 2013.
Sedemikian itu maka Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese menyanjung presetasi yang telah diraih oleh Prof Jamaluddin Jompa.
Dia menilai, Prof Jamaluddin Jompa adalah figur yang mampu memadukan antara keunggulan ilmu pengetahuan dan kecermatan dalam mengelolah kebijakan.
Semoga kunjungan dan pertemuan dua keluarga dekat ini dapat meningkatkan kerjasama yang lebih kuat dan bermanfaat bagi kedua belah pihak sehingga harmonisasi yang sudah terjalin dan terbangun juga semakin dinamik di hari esok. Aamiin.(*)