Opini Tribun Timur
Tasawuf Solusi Pandemik dan Perang
Dunia sudah dilanda krisis sebelum pandemik virus korona. Kehadirannya di tahun 2019 yang belum hilang hingga di tahun 2022 ini.
Harus dipahami bahwa metode dan gaya diplomasi tidak melulu diperankan dengan dialog antara pejabat tinggi dari masing-masing negara, tetapi bagian dari diplomasi yang praktis dan efektif adalah akulturasi budaya.
Pertukaran ilmu pengetahuan, pengayaan seni dan transaksi ekonomi yang dapat mengarah pada semacam konvergensi dan pemahaman antara bangsa-bangsa di dunia.
Semua umat manusia, apapun agama, ras, kebangsaan dan gender memiliki kebutuhan dan rasa sakit yang sama. Sayangnya filsafat dan sikap individual telah menjadi salah satu penyebab divergensi antar manusia.
Memberhalakan ego individu, mengedepankan perbedaan yang diskriminatif dan tidak melihat kesamaan adalah salah satu penyebab konflik global.
Menurut Jalaluddin Rumi, seorang sufi dan penyair besar dunia Islam, bahwa ada kekeliruan dari para pemeluk agama yang cenderung mengedepankan perbedaan para nabi tetapi tidak melihat kesatuan transenden dan misi suci dari para nabi.
Konflik kepentingan antara kelompok sosial yang berbeda adalah hal yang natural terjadi namun solusinya bukanlah perang.
Dialog dalam bingkai persaudaraan, kesederajatan, dan kebersamaan adalah satu-satunya cara komunikasi dan berkompromi untuk menyelesaikan persoalan dan krisis multi dimensi yang sedang melanda dunia hari ini.
Dan itu ada pada ajaran dan metode tasawuf!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Supratman-Supa-Athana-Pengajar-Kajian-Timur-Tengah-Departemen-Sastra-Asia-Barat.jpg)