Opini Dwi Rezki Hardianto
KKN di Desa Penari sebagai Otoritas Simbolik
Pada awalnya cerita KKN di Desa Penari (kemudian disebut KDDP) adalah kisah horor yang dicitrakan dan disebarluaskan melalui twitter.
Dwi Rezki Hardianto SS MA
Alumnus Magister Sastra FIB UGM
TRIBUN-TIMUR.COM- Pada awalnya cerita KKN di Desa Penari (kemudian disebut KDDP) adalah kisah horor yang dicitrakan dan disebarluaskan melalui twitter mulai pada 24 Juni-25 Juli 2019.
Akun yang menuliskan kisah ini adalah @SimpleM81378523 atau juga disebut Simpleman.
Tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa dan dari mana asal Simpleman. Hal ini masih menjadi sebuah teka-teki.
Namun, hal yang menarik adalah kita mengenal penulisnya melalui thread twitter-nya. Dengan demikian pula kita mampu membenamkan diri pada teksnyabukan karena popularitas penulisnya sebagaimana yang terjadi di dalam fenomena sastra saat ini.
Hingga saat ini, KDDP telah melalui tiga ruang produksi sekaligus reproduksi. (1) Ketika KDDP menjadi sastra siber melalui thread twitter, (2) ketika KDDP direproduksi menjadi novel pada September 2019, dan (3) kemudian ditransformasikan menjadi film dan tayang pertama kali pada 30 April 2022.
Sebagai asumsi, salah satu sebab utama KDDP direproduksi hingga menjadi film, yaitu KDDP mampu mengundang atensi dari masyarakat luas melalui komentar-komentar baik dari twitter hingga media sosial lainnya.
Hal ini tentu menjadikan KDDP semakin viral dan populer. Dengan demikian, KDDP dapat disebut pula sebagai sastra populer sehingga kepopuleran inilah yang direproduksi.
Salah satu penelitian yang berasal dari Poetika Jurnal Ilmu Sastra, yaitu Degradasi Puitika dalam Kontestasi Literasi Cerita KKN di Desa Penari (2019) menuturkan bahwa kepopuleran dari sebuah karya dapat disimak dari sisi kuantitas, objektif dan masifnya. Apalagi KDDP masuk ke dalam genre horor.
Kehororan itu terdemonstrasikan dari kehadiran dominasi horor nan mistik dalam teks.
Bukankah mayoritas masyarakat indonesia masih menyukai mistisisme?
Hal itu dibuktikan bahwa penonton film KDDP telah mencapai 5 jutaan pada 14 Mei 2022.
Hal ini tentu menjadi film horor terpopuler yang pernah ada di Indonesia. Namun, selama belum mengalahkan Dilan 1990 (6,3 jutaan) dan Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss! Part 1 (6,8 jutaan).
Maka, Ia belum berhasil mengalahkan kegagahan Iqbal (Dilan) dan mengalahkan ketenaran masa lalu Dono, Kasino, dan Indro.
Meskipun demikian, saya berasumsi bahwa keviralan KDDP sebenarnya bukan karena artris di dalamnya, melainkan adanya panggilan-panggilan lain yang (diaggap) mampu menutupi teka-teki (makna) dalam benak masyarakat.
Ruang Antara