Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Buku dan Sebuah Kehidupan Baru

Andaikan buku sepotong roti, maka pasti semua orang beramai-ramai melahapnya setiap hari minimal 25 menit.

Editor: Sudirman
Bachtiar Adnan Kusuma
Bachtiar Adnan Kusuma, Tokoh Literasi Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional RI 

Bachtiar Adnan Kusuma

Deklarator Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia Pusat/Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional RI

Andaikan buku sepotong roti, maka pasti semua orang beramai-ramai melahapnya setiap hari minimal 25 menit.

Selain karena masyarakat telah menempatkan membaca seperti mengunyah makanan, maka setiap orang menempatkan membaca seperti kebutuhan primer atau wajib.

Namanya saja, makanan tidak bisa dipisahkan dengan setiap manusia.

Selain makanan berfungsi sebagai alat untuk melangsungkan kehidupan manusia, makanan juga berfungsi sebagai nutrisi sekaligus penguat tubuh setiap manusia.

Nah, pentingnya membaca sebagai kebutuhan primer manusia, maka pasti membaca telah menjadi budaya dalam setiap keluarga di Indonesia. Membaca telah menjadi gaya hidup penting bagi masyarakat.

Namanya saja membaca berbudaya, otomatis menempatkan membaca sebagai sesuatu yang sangat penting dalam setiap keluarga.

Pertanyaannya, mengapa membaca dan menulis buku belum menjadi aktivitas kebudayaan bagi masyarakat?

Andaikan Proklamator Bung Hatta masih saja hidup, ia pasti sedih dan prihatin melihat wajah pendidikan kita yang semakin hari menunjukkan ketertinggalan dari negara-negara lain di dunia.

Bung Hatta adalah Bapak pendiri Bangsa Indonesia bersama Bung Karno yang dikenal memiliki kepedulian besar tumbuhnya minat baca Indonesia.

Kecintaan Bung Hatta terhadap buku, membuatnya memboyong puluhan buku-bukunya menyertainya saat di buang di Boven Digul.

Apa perbedaan Bung Hatta dan Tan Malaka dalam menempatkan buku sebagai benda yang amat dihargainya?

Kalau Bung Hatta berhasil membawa puluhan, bahkan ratusan buku-bukunya ke penjara, sementara Tan Malaka ratusan buku-bukunya tenggelam di laut saat ia membawanya ke penjara.

Indonesia tak bisa dipungkiri sebagai bangsa yang belum gemar membaca, dan masih berada di nomor urut sepatu jika kita sandingkan minat baca negara-negara Asean lainnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved