Opini Tribun Timur
Matematika dan Konsep Ikhlas
Ikhlas dalam pengertian yang sederhana adalah sikap merelakan kepemilikan paling berharga dari kita dengan harapan mendapat ridha Allah.
Oleh: Drs H Amrullah Hamid
Matematika Ahli Madya
Ikhlas dalam pengertian yang sederhana adalah sikap merelakan kepemilikan paling berharga dari kita dengan harapan mendapat ridha Allah.
Di lain sisi, ikhlas juga dapat difahami sebagai tindakan menghindarkan hati dari segala tujuan selain Allah.
Bahkan dalam konteks kepentingan pribadi kita pun mesti dimuarakan pada kepentingan Allah semata.
Ikhlas memang sulit dicapai, namun kita harus terus berusaha melatih diri melepaskan kepentingan diri sendiri jika itu berkaitan dengan ibadah kepada Allah.
Contoh sederhana tentang ikhlas bisa dilihat saat kita buang air besar, kita tidak pernah mengingat ataupun menghitung berapa banyak yang sudah kita keluarkan.
Ikhlas juga bisa dianalogikan seperti tukang parkir, dia tidak pernah keberatan jika kendaraan yang dijaganya diambil oleh yang punya.
Kenapa ? karena tukang parkir tak pernah merasa memiliki, hanya sekadar merasa dititipi.
Konsep inilah perlu untuk diterapkan dalam hal beribadah kepada Allah, agar apa yang kita lakukan bermuara pada keikhlasan.
Ikhlas dan Matematika
Bila kita memberikan sesuatu kepada seseorang dengan ikhlas, maka Allah akan memberikan balasan yang jauh lebih banyak.
Hanya saja, perlu untuk dicatat bahwa memberi yang dimaksud disini adalah yang dilakukan dengan tanpa mengharapkan balasan dari Allah.
Sebab, dalam teori matematisnya, semakin banyak harapan yang kita tumpukan pada Allah saat memberi, maka hasil yang kita peroleh akan semakin sedikit.
Sebaliknya, jika memberi dengan tanpa mengharapkan apa-apa, justu akan mendapatkan balasan yang tak terhingga banyaknya dari Allah.
Ini dapat kita jabarkan dalam ilmu marematika dengan menggunakan rumus : Pemberi / Harapan = Hasil.
Dalam konteks rumus ini, yang bertindak sebagai pemberi tentu adalah Allah sebagai satu-satunya pemilik segala apa yang ada di alam semesta ini.
Dialah Allah yang Maha Esa dan tak ada satupun yang mampu menyerupai-Nya (Q.S. Al-Ikhlas : 1-4).
Dengan demikian, rumus di atas dapat ditulis 1 / Harapan = hasil.
Contoh jabarannya adalah 1/1.000.000=0,000001
1/100.000=0,00001
1/10.000=0,0001
1/1.000=0,001
1/100 = 0,01
1/10 = 0,1
1/5 = 0,2
1/4 = 0,25
1/2 = 0,5
1/1 = 1
1/0,5= 2
1/0,4= 1,4
1/0,00000001 = 100.000.000
1/0 = tak terhingga banyaknya.
Dari jabaran hitungan di atas, dapat kita simpulkan bahwa semakin tinggi angka harapan, maka semakin kecil pula hasil balasan yang akan diperoleh.
Namun jika harapan itu menginjak pada angka 0 atau tidak ada (ikhlas karena Allah),
maka balasan yang akan diperoleh tak terhingga banyaknya.
Melalui penjabaran ilmu matematis ini, seyogyanya kita bisa jadikan sebagai media perenungan.
Bahwa segala apa yang kita lakukan di dunia ini mesti diikutsertakan keikhlasan dan ketulusan kepada Allah.
Tentunya, dengan menjauhkan diri dari tumpukan harapan-harapan buta dan sesaat. Memberilah dengan semata-mata karena ridha-Nya.
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/drs-h-amrullah-hamid-matematika-ahli-madya.jpg)