Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sejarah Becak Makassar

Daeng Tawang & Daeng Nompo: Akhir Sejarah Becak di Selatan Kota Makassar

"Saya bawa becak saat masih ada bemo, umur 14 tahun," kata Tawang merujuk awal mula dia menggayuh becak akhir dekade 1970-an.

Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Saldy Irawan
tribun-timur
Pedagang dan perakit becak di Jalan Sulawesi, tahun 1940-an. Sumber PECINTA SEJARAH Sulsel dan Sulbar 

Saat Tribun bertanya sewa angkut 2 balok dan 2 seng alumunium dari Jl Dg Tata ke Jl Mannuruki, sekitar 1,7 km, jawabannya pun lirih.

"Biar online saja yang pasang tarif tetap," ujarnya.

Daeng Nompo menyebutkan kebayakan penggayuh becak sudah berusia 60-an.

Dia memilih tetap setia jadi pengayuh becak karena masih ada pelanggannya di pasar Hartaco.

Salain itu, mereka mengaku tak punya akses pembiayaan untuk mencicil bentor.

Mereka juga mengaku "tak berani" mengurus surat izin mengemudi (SIM) di kantor polisi.

Migrasi becak kayuh ke becak motor (bentor) satu dekade terakhir jadi tonggak baru modernisasi angkutan umum tertua di Makassar.

Di kawasan Bonto Duri, pemukiman urban antara Jalan Dg Tata dan Jl Andi Tonro di selatan kota, adalah konfirmasi berakhir masa jaya becak.

Selama hampir lima dekade, kawasan urban ini jadi pemukiman pebecak, supir pete-pete, pagandeng atau supir taksi.

Kebanyakan warganya berasal dari Jeneponto, Takalar dan Bantaeng.

"Sejak pemilu Jokowi menang (2014) dihitung jari becak yang parkir di Bonto Duri, ganti bentor mi semua.

Petepete diganti taksi online," ujar Sudding Daeng Nai (64).

Dg Nai tinggal di Bontoduri sejak akhir 1980-an. Sejak 2015, Daeng Nai migrasi ke jadi pebentor.

Namun sejak beralih jadi rider bentor, istrinya mulai jadi tempat mengeluh.

Sang istri bercerita, saat jadi pengayuh becak, suaminya nyaris tidak pernah sakit, dan selalu berkeringat. 

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved