Opini Tribun Timur
Teman Hidup
Terasa ada yang kurang dari dirinya ketika yang ditunggu itu tidak hadir di depan matanya.
Tampak semrawut karena tidak tertata dengan baik, namun tersimpan dalam kardus yang cukup aman.
Tiada hari tanpa membaca. Terkadang begitu asyiknya membaca sehingga mengabaikan keadaan di sekitarnya.
Ada rasa senang, karena ketika orang tuanya masih hidup juga hobby membaca. Hasil bacaan itu menjadi bahan diskusi ringan di antara mereka.
Usianya tidak lagi terbilang muda, sudah lebih dari setengah abad. Kesukaannya di dunia persuratkabaran
ini dimulai ketika masih menjadi mahasiswa di tahun pertama era 70-an.
Saat itu tergambar dalam keinginannya untuk menjadi wartawan perang, dikirim ke mana-mana untuk meliput suasana pertempuran.
Ternyata nasib membawanya ke lain arah. Walaupun ia tidak menjadi wartawan untuk sebuah media , tetapi
banyak bersahabat dengan pekerja media.
Ia memiliki pekerjaan tetap. Dalam sepekan paling banyak 3 hingga empat hari beraktivitas. Dalam sehari ia
memanfaatkan waktunya sekitar 3 jam saja.
Bahkan terkadang ia tidak melakukan kegiatan rutinnya hingga 2sampai 3 bulan. Ia berlatar belakang ilmu sosial.
Namun minatnya di luar bidang itu terkadang membuatnya seolah-olah ‘gila’. Terkadang dianggap tidak masuk akal, sekadar khayalan saja.
Rumput dan dedaunan kering saja sering dipersoalkan. Kecepatan dan raungan suara kendaraan pun dikomentarinya.
Pendek kata banyak hal yang menjadi bahan pemikirannya namun sulit terwujudkan. Mungkin perlu kolaborasi dengan peminat ilmu lainnya untuk menjadikan sebuah karya nyata.
Hobbynya dalam hal tulis-menulis tetap dilakukan secara rutin. Menulis adalah sebuah aktivitas kreatif dalam mengasah ketajaman berpikir dan menganalisis.
Sudah banyak artikel yang dihasilkan dari pemikirannya. Musibah besar menimpa perjalanan hidupnya.
Koleksi surat kabar yang bertahun-tahun disimpannya, hilang dalam waktu sekejab oleh ‘Petugas Kebersihan’.
Bukti-bukti monumental dari kehadiran surat kabar tidak dapat dibuktikan.
Habis, ludes, sirna tanpa jejak. Jutaan informasi ikut lenyap. Rencana disertasinya terganggukarena ketiadaan data konkret surat kabar miliknya. Tangis perih dalam duka yang tertahankan.
Tulisan ini juga diterbitkan pada harian Tribun Timur edisi, Senin (13/12/2021).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-gafar-1-11102021.jpg)