Opini Tribun Timur
Teman Hidup
Terasa ada yang kurang dari dirinya ketika yang ditunggu itu tidak hadir di depan matanya.
Abdul Gafar
Dosen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar
Kedatangannya selalu ditunggu-tunggu setiap hari. Baik pagi maupun siang hari.
Terasa ada yang kurang dari dirinya ketika yang ditunggu itu tidak hadir di depan matanya.
Lebih separuh dari umurnya bergelut dengan yang ditunggunya. Dialah yang pertama menyentuhnya sambil menelisik dan memelototi benda itu.
Ia datang membawa sejumlah kabar dan derita kisah anak manusia di berbagai belahan bumi.
Ada kesedihan, kedukaan, kegembiraan, kesuksesan dan juga kegagalan. Boleh sajakisah seseorang ataupun sekelompok orang, bahkan dalam hal yang lebih serius menyangkut negara dengan segala problematikanya.
Sesuatu yang ditunggu itu dinamakan Surat Kabar. Ya, orang itu sebagai penikmat surat kabar. Kesabarannya telah dibuktikan selama 40 tahun lebih sebagai pembaca sekaligus pelanggan setia surat kabar.
Surat kabar yang dilangganinya selain yang terbit di Makassar, juga yang terbit di luar Makassar.
Ia berlangganan surat kabar mulai dari Harian Pedoman Rakyat hingga tidak terbit lagi dalam kondisi normal.
Kemudian Harian Fajar, Sinar Harapan (berubah menjadi Suara Pembaharuan), Jawa Pos, Kompas, Republika, Tribun Timur hingga Koran Sindo.
Investasi yang dikeluarkan untuk ‘kepuasaan’ batinnya dalam mengetahui berbagai peristiwa sungguh luar biasa.
Sebagian hidupnya diisi dengan membaca. Ia memiliki koleksi Harian Fajar sejak edisi pertama.
Begitu pula dengan Harian Republika edisi pertama. Selanjutnya Harian Tribun Timur Makassar juga ada edisi
perdananya.
Ia telah menjadikan dirinya sebagai kolektor surat kabar secara mandiri. Tumpukan surat kabarnya cukup banyak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-gafar-1-11102021.jpg)