Opini Tribun Timur
Menyoal Layangan Putus
Kisah “Layangan Putus” menghangat kembali setelah sempat viral di tahun 2019 lalu. Tayangan perdana di WeTv menjadi trending di jagat media.
Oleh: Adira, S.Si
(Guru SMAN 8 Bulukumba)
Kisah “Layangan Putus” menghangat kembali setelah sempat viral di tahun 2019 lalu. Tayangan perdana di WeTv menjadi trending di jagat media.
Serial ini berhasil menguras emosi kaum hawa. Tak jarang yang merasa dirinya menjadi tokoh Kinan dalam cerita yang diadaptasi dari tulisan Mom ASF ini.
Dilansir dari Liputan6.Com (5/11/2019). Pemilik kisah Layangan Putus angkat bicara. Mom ASF menyatakan sudah menghapus tulisannya di grup kepenulisan Komunitas Bisa Menulis (KBM) atas saran kuasa hukumnya.
Admin KBM sendiri menyatakan cerita ini hanya fiksi. Mom ASF juga menyatakan berlepas tangan dari berbagai spekulasi yang muncul, yang dipertanggungjawabkan hanya sebatas tulisan yang telah diunggahnya di grup KBM.
Miris menyaksikan euphoria berlebihan terhadap kisah ini. Bukan tak berempati pada ujian hidup yang dialami oleh tokoh tersebut, namun tak layak rasanya jika sebuah kisah rumah tangga menjadi sesuatu yang dikomersilkan oleh pihak-pihak tertentu.
Mom ASF sendiri mengaku tidak membenci ayah anak-anaknya dengan segala kebaikan yang telah dirasakan selama menjalani rumah tangga bersama mantan suaminya.
Tayangan ini juga banyak mendapatkan komentar keprihatinan dari pemirsa disebabkan karena tayangan terkesan sangat vulgar dan mengumbar romantisme yang berlebihan.
Meskipun diperuntukkan untuk usia +17 tahun ke atas, namun film ini bisa diakses dengan mudah oleh publik dari segala usia.
Serial ini dibanjiri pujian mirip drakor sebab alur cerita yang dinilai sangat apik dan adegan peran yang sangat profesional para aktrisnya.
Sayangnya, itu bukanlah sebuah kemajuan yang layak kita banggakan namun menjadi bahan renungan bahwa indentitas kultural kita kian terkikis. Prilaku bebas makin mendominasi.
Liberalisasi Mewarnai Dunia Hiburan
Bukan kali ini saja, produksi film atau sinetron tanah air mendapat kecaman sebab tidak ramah dengan usia pemirsa di bawah umur.
Konten pornoaksi yang sangat vulgar dari beberapa serial sinetron sebelumnya bahkan mendapat teguran dari
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/adira-ssi-guru-sman-8-bulukumba.jpg)