Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Politik

Politik jarang sekali memberi sensasi positif bagi nalar publik. Orang-orang tak henti-hentinya mencercah, bahwa politik itu kotor dan jorok.

Editor: Sudirman

Oleh; Abdul Karim

Majelis Demokrasi dan Humaniora

Politik jarang sekali memberi sensasi positif bagi nalar publik. Orang-orang tak henti-hentinya mencercah, bahwa politik itu kotor dan jorok.

Politik itu janji-janji hampa, sumpah yang dilanggar, senyum yang dibuat-buat, blusukan yang tak ikhlas.

Politik itu rayuan, intimidasi, manipulasi, persekongkolan lancung, dan juga sogok menyogok.

Tetapi dengan politik, orang-orang terkadang menguap kesadarannya. Politik seringkali ditemukan membuat orang ramai bagai sosok-sosok yang kesurupan.

Apa yang membuat politik demikian? Barangkali karena politik memiliki tali penghubung sekaligus berfungsi sebagai pengikat pada kaum ramai, atau kaumnya--yakni materi dan posisi.

Tali itu mengikat tubuh, namun menguapkan nalar. Fisik terikat, tetapi nalar terlepas.

Mereka yang terlibat dalam politik memberi tali itu pada kaum ramai.

Maka apapun yang dikata atau diperaga sang politik niscaya diaminkan begitu saja oleh kaumnya.

Lalu, itu semua (kata dan perilaku sang politik) diperjuangkan oleh kaum ramai, dibela hingga akhir bila ada pihak yang mencoba menantang sang politik.

Syakwasangka disana bolong sama sekali alias hampa. Apalagi nalar kritis pasti tak terberi.

Tak ada pertanyaan yang menyeruak, yang ada hanya penerimaan.

Maka setiap kebohongan sang politik, selalu diterima seraya dianggap kebenaran oleh kaumnya. Keculasan dianggap kebaikan.

Kepongahan dipersepsi kemuliaan. Kepemimpinan diyakini sebagai kekuasaan. Kedustaan yang berulang dipercaya sebagai kekhilafan yang terjadwal.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved