Breaking News:

Opini Tribun Timur

Gulata: Spirit Ekonomi Perlawanan

Masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya, mungkin tidak banyak yang merespon ketika mendengar diksi “Gulata” disebut.

Editor: Sudirman
Gulata: Spirit Ekonomi Perlawanan
DOK
Yarifai Mappeaty, Alumni Universitas Hasanuddin

Oleh : Yarifai Mappeaty

Anggota IKA Unhas

Masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya, mungkin tidak banyak yang merespon ketika mendengar diksi “Gulata” disebut.

Maklum, diksi itu terlalu biasa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, “Ada gulata, bos?” Bagi mereka yang pernah menjadi mahasiswa dan tinggal di asrama, rumah kos, atau di kamar-kamar kontrakan, nyaris setiap saat mendengar kalimat itu diucapkan.

Secara linguistik, Gulata merupakan gabungan kata “gula” dan “ta” yang hanya ada dalam dialek Ujung Pandang.

“Ta” di sini adalah kata ganti yang artinya, “mu”, tetapi bisa juga berarti, “kita”.

Dengan demikian, “Gulata” dapat bermakna “gulamu”, tetapi dapat pula bermakna “gula kita”, sebuah makna yang lebih santun.

Tetapi meski Gulata sudah demikian familiar di lidah dan telinga masyarakat Sulawesi Selatan, namun kesan yang timbul akan menjadi berbeda, ketika ditemukan tertulis pada kemasan sebuah produk sebagai merek dagang. Di sini, Gulata menjadi menarik karena memiliki nuansa unik.

Benar, Gulata adalah nama merek dagang dari produk gula pasir PT. Prima Alam Gemilang yang memiliki perkebunan tebu dan pabrik gula di Bombana Sulawesi Tenggara.

Pabrik gula tersebut, konon, terbesar dan termodern di Asia Tenggara, milik pengusaha asal Sulawesi Selatan, Andi Amran Sulaiman dan Syamsuddin Arsyad yang lebih dikenal sebagai “Haji Isyam”.

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved