Breaking News:

Opini Tribun Timur

Pekerja Malam

Aktivitasnya selalu berhubungan dengan hal-hal yang halus, lembut, kasar, dan keras serta kuat.

Editor: Sudirman
DOK PRIBADI
Dosen Ilmu Komunikasi Unhas, Abdul Gafar 

Abdul Gafar

Dosen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar

Aktivitasnya selalu berhubungan dengan hal-hal yang halus, lembut, kasar, dan keras serta kuat.

Pergulatannya melawan kesepian waktu dan target yang telah ditetapkan.

Dingin yang menusuk tulang bukanlah hambatan untuk tetap bergerak. Kecepatan dan ketepatan menjadi fokus perhatiannya.

Gaya berkomunikasi sesama mereka melalui teriakan-teriakan yang keras melawan kebisingan derit gesekan besi.

Mereka tidak akrab dengan aroma bermacam-macam parfum. Pakaian dan asesori mereka dihiasi percikan-percikan yang melekat keras.

Mereka kurang menyukai kegelapan atau kilauan lampu kerlap-kerlip. Tiada suara musik yang berirama keras atau
lembut mengiringi kerja mereka.

Terang benderang sangat membantu kerja mereka. Malamnya mereka kerja keras. Siangnya, mereka perlu beristirahahat untuk kerja malam lagi.

Musuh mereka saat bekerja adalah curahan air hujan. Walaupun sesudah kerja mereka, curahan hujan sangat membantu pekerjaan tersebut. Inilah corak kawan dan lawan yang selalu bersatu dalam tujuan bersama.

Dalam dunia politik lain lagi mainnya. Beberapa waktu perhatian penulis sempat tercurahkan kepada kelompok pekerja malam ini.

Mereka terdiri atas beberapa etnis: ada Makassar, Jawa, dan Tator. Mereka adalah pekerja jalan. Jalan lorong
depan rumah penulis dilakukan pembetonan.

Kebisingan suara raungan sepeda motor dan mobil hilang sementara. Suasana kehidupan terasa nyaman tanpa
suara dan polusi.

Kendaraan penulis terpaksa ‘terkancing’ untuk beberapa saat karena tidak dapat ke luar dari pekarangan.

Menurut pekerja malam itu, jalanan harus bebas dari injakan kendaraan selama 21 hari ke depan.

Tetapi mental pelintas, tidak dapat menahan diri. Baru 2 hari pembetonan, sudah ada yang berani lewat.

Kemarin terpal penutup jalan mulai diangkat oleh pekerjanya untuk digunakan di tempat lain.

Mengisi hidup di masa pandemi terpaksa tetap harus kerja keras. Demi memerpanjang hidup keluarga, profesi sebagai pekerja malam mesti dilakukan.

Inilah kenyataan hidup orang ‘bawah’ dengan segala kekurangannya. Ada juga golongan tertentu di negeri ini kerja keras demi melanggengkan hidup untuk 7 turunan atau lebih yang akan datang.

Mereka ini bukan saja masuk kategori pekerja malam, melainkan pekerja siang-malam. Mereka memikirkan bagaimana pundi-pundi bertambah deras mengalir ke rekening.

Mengeruk dan menguras tuntas keuntungan besar di atas penderitaan orang lain. Inilah negeri kita, negeri serba nyata.

Terdapat kesenjangan yang lebar antara kaum yang berpunya dan kaum tak berdaya. Terdapat segelintir orang yang konon memiliki luas tanah hingga ratusan kali luas kota Jakarta.

Wah, hebat dan fantastis. Mayoritas anak negeri hanya dapat menempati lahan sempit tanpa jaminan rasa aman dan nyaman. Kawasan-kawasan elit dan jalan protokol sudah jelas pemiliknya.

Tempat-tempat strategis pun di bawah kekuasaannya. Pekerja malam memang harus menggunakan
kekuatan fisik yang selalu prima.

Jika tidak, maka penghasilan akan terhenti. Sementara pekerja siang- malam, tanpa bekerja keras dan berat, penghasilan akan mengalir terus dalam kendalinya. Pekerja siang-malam terpapar terus oleh aroma parfum yang bernilai tinggi.

Sama dengan ‘pekerja malam’ lainnya. Parfumnya juga menyegat agar dapat menarik perhatian orang lain.

Pekerja malam berparfum ini, nasibnya juga sama dengan pekerja malam pembuat jalan. Kerja baru
dibayar.

Jika tidak kerja, tidak ada penghasilan. ‘Pekerja malam’ ini tampaknya sudah aktif juga sebagai pekerja
siang. Tergantung orderan dan kelasnya.

Ada yang melayani pengorder kelas murahan di penginapan murah. Ada juga yang bermain di hotel-hotel mewah
dan mahal untu kelas atas kaum elite. Bisnis ini tampaknya tetap cerah di masa pandemi. Oh ya ?

Tulisan ini juga diterbitkan pada harian Tribun Timur edisi, Senin (29/11/2021).

Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved