HUT ke 701 Gowa
Kini Berusia 701, Berikut Sejarah Singkat Kabupaten Gowa
Peringatan Hari Jadi Gowa (HJG) ke-701 diselenggarakan dengan rapat paripurna di Halaman Kantor Bupati Jl Mesjid Raya, Sungguminasa
Penulis: Sayyid Zulfadli Saleh Wahab | Editor: Suryana Anas
Enam tahun kemudian semua kerajaan di sulawesi selatan berhasil di-Islam-kan oleh Datuk Ri Bandang, Datok Patimang dan Datok Ri Tiro, sehingga pada masa itu seluruh tatanan sosial kemasyarakatan berlandaskan syariat Islam Sultan Hasanuddin Raja I Mallombasi Daeng Mattawang dengan Gelar Ayam Jantan Dari Benua Timur, memproklamasikan kerajaan Gowa sebagai Kerajaan Maritim yang memiliki armada perang yang tangguh dan kerajaan dikawal dengan rangkaian Benteng Pertahanan antara lain: Tallo, Ujung Tana, Ujung Pandang, Mariso, Panakkukang, Garassi, Galesong, Barombong, Ana' Gowa, dan Kalegowa.
Sebagai kerajaan maritim, Gowa melintasi perairan sebagai lintas perdagangan yang menembus Samudera hingga Madagaskar dengan tetap menjunjung tinggi dan menghormati kebebasan dan kebebasan, termasuk kebebasan berusaha di laut.
Pada Tanggal 2 Maret 1607, VOC tiba dan berlabuh di Pelabuhan Makassar, dan pada tanggal 26 Juni 1637 Raja Gowa yang cinta akan damai melakukan perjanjian pertama kali dengan kompeni Belanda di-bawah-pimpinan-Cornelius Matelief dengan isi perjanjian : perdamaian, perdagangan bebas dengan syarat personil VOC tidak menetap di Somba Opu.
Ternyata kehadiran VOC lambat laun banyak mengusik solusi masayarakat Gowa, dengan jala tanpa kehendak untuk menguasai perdagangan, timbullah perlawanan Raja untuk dominasi di persada Nusantara, peristiwa ini ditandai dengan titah Sultan Sebagai Berikut : Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan bumi dan lautan.
Bumi telah dibagi bagikan di antara manusia tetapi lautan diberikan untuk umum.
Belum pernah kami dengar bahwa pelayaran di lautan terlarang bagi seseorang.
Jika Belanda melakukan larangan, maka itu berarti bahwa Belanda seolah-olah mengambil nasi dari mulut orang lain".
Peperangan pun tidak terelakkan dan tidak berjalan seimbang, dimana kekuatan lawan ditunjang armada yang cukup. Namun dengan kesatria, pasukan Kerajaan Gowa telah membinasakan semua orang Belanda yang menginjakkan kaki di Bandar Sombaopu Pada tahun 1652 Kembali Sultan Hasanuddin kemampuan sebagai kesatria pelaut membantu perlawanan rakyat Maluku dengan mengirimkan kekuatan 32 perahu untuk melawan Belanda, dan pertempuran ini sangat memojokkan Belanda yang meminta berdamai tetapi Raja Gowa menolak.
Pada tahun 1653 sampai dengan 1670, kebebasan berdagang di laut lepas tetap menjadi garis di bawah Sultan Hasanuddin.
Namun kebebasan mencari nafkah yang tetap menjadi prinsip Kerajaan Gowa menjadi dari VOC, dengan mengirimkan armada besar terdiri dari : 31 kapal perang membawa 2600 orang awak kapal bersama perlengkapan perang yang cukup.
Pasukan Gowa menyerang posisi Belanda di Buton yang berakibat pasukan Belanda dimusnahkan bersama kapal perangnya.
Akibat peperangan terus menerus antara Kerajaan Gowa dengan VOC, mengakibatkan jatuhnya kerugian besar dari kedua belah pihak.
Semua laskar bahu membahu dengan pemuda hingga anak-anak. Oleh Sultan Hasanuddin dengan pertimbangan kebijaksanaan dan kemanusiaan guna menghindari kerugian dan pengorbanan rakyat maka dengan hati-hati menerima permintaan dari VOC sehingga pada tanggal 18 November 1667 perjanjian yang dikenal Perjanjian Bungaya (Cappaya ri Bungaya) yang terdiri dari 29 29.
Perjanjian ini tidak berjalan langgeng, karena pada tanggal 19 Maret 1668 pihak Kerajaan Gowa merasa dirugikan, sehingga Raja Gowa mengirimkan utusan kepedalaman Sulawesi untuk mengajak rakyat kembali melawan VOC, dan pada tanggal 12 April 1668 perang kembali pecah, pertempuran dahsyat kembali terjadi di Benteng Somba Opu.
Pada tanggal 8 menjelang malam tanggal. 9 Agustus 1668 pasukan kerajaan Gowa meledakkan kapal Belanda dan kebanggaan kapten dan seluruh anak buah kapal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/peringatan-hari-jadi-gowa-hjg-ke-701-di-halaman-kantor-bupati-gowa-jl-mesjid-raya.jpg)